BogorOne.co.id | Kota Bogor – Rumah sederhana milik Ati (87) di Kampung Rambay, Kelurahan Ciluar, Kecamatan Bogor Utara, mendadak ramai oleh tawa kecil dan sapaan hangat. Hari itu, Kamis (29/5/2025), langit Bogor mengiringi langkah Wali Kota Bogor, Dedie A. Rachim, bersama sang istri, Yantie Rachim, datang membawa perhatian.
Kunjungan itu bertepatan dengan peringatan Hari Lanjut Usia Nasional (HLUN) yang jatuh setiap 29 Mei. Dalam balutan program “Nyaah Ka Indung”, yang diinisiasi Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi, pasangan Dedie dan Yantie hadir untuk menyapa langsung para lansia yang hidup dalam kesunyian, jauh dari gemerlap kota.
Di hadapan mereka, Mak Ati, begitu warga sekitar memanggilnya tersenyum lebar. Tangan keriputnya menyambut pelan, tubuhnya bersandar pada bantal tipis di kursi tua, tapi matanya bersinar saat Dedie melempar candaan ringan.
“Mak Ati sehat, ya? Nanti kita main catur,” ujar Dedie, disambut tawa kecil dari sang tuan rumah.
Mereka tidak datang dengan tangan kosong. Paket berisi sembako, buah-buahan, hingga kebutuhan nutrisi diserahkan sebagai bentuk kepedulian. Namun lebih dari itu, kehadiran mereka menyampaikan pesan yang jauh lebih dalam, bahwa perhatian dan kasih sayang tak pernah lekang oleh waktu.
“Bukan hanya soal memberi bantuan, tapi juga mendorong masyarakat untuk peduli. Lansia, apalagi yang sudah renta dan hidup sendiri, perlu sentuhan hati. Perlu kehadiran,” ujar Dedie dengan nada serius namun hangat.
Kehadiran Dedie dan rombongan juga menyita perhatian anak-anak kampung yang penasaran melihat rombongan pejabat mendatangi rumah sederhana itu. Momen itu pun dimanfaatkan untuk menanamkan nilai, bahwa menghormati dan membantu lansia adalah bentuk nyata dari empati.
“Kalau lihat nenek-nenek jalan sendiri, bantu tuntun. Kalau lihat kakek kesepian, ajak ngobrol,” pesan Dedie kepada anak-anak.
Program Bogor Nyaah Ka Indung yang kini menjadi gerakan bersama, telah dijalankan sejak 21 April oleh seluruh perangkat daerah, dari kepala dinas hingga lurah. Tidak hanya mencatat keberadaan para lansia, tapi benar-benar mendalami kehidupan mereka, khususnya mereka yang tak lagi mampu bekerja, hidup sendiri, dan sangat bergantung pada uluran tangan orang lain.
“Ini bukan sekadar program, ini adalah cara kita mengenang jasa orang tua. Dengan menyayangi para lansia, kita belajar untuk tidak lupa pada asal kita,” ucap Dedie.
Di tengah percakapan itu, Mak Ati kembali tersenyum. Mungkin ia tidak mengingat semua nama yang datang berkunjung hari itu. Tapi ia pasti ingat, ada hari di mana rumahnya tak sepi, dan ada waktu di mana ia merasa sangat diperhatikan.
























Discussion about this post