BogorOne.co.id | Cisarua – PT. Sumber Sari Bumi Pakuan (SSBP) sebagai pemegang sertifikat Hak Guna Usaha (HGU) pada lahan negara di kawasan Puncak terus melakukan pengawasan wilayah.
Selain melakukan pengawasan batas wilayah dari munculnya penggarap-penggarap liar yang dilakukan oleh masyarakat, SSBP juga terus merawat, memelihara dan menjaga lahan HGU nya yang saat ini menjadi lahan perkebunan teh Ciliwung.
Pengelola Perkebunan Teh Ciliwung, Alfatah mengatakan, sejak memegang HGU pada tahun 2004 lalu, SSBP fokus pada rencana awal menjadikan lahan seluas 562 hektar ini menjadi lahan perkebunan teh.
“Alhamdulilah lahan seluas itu semuanya dalam kondisi terjaga, terpelihara dan terawat, kalau pun berdiri bangunan itu hanya untuk kebutuhan perusahaan perkebunan,” ujar Alfatah.
Selain menjaga dan memelihara perkebunan sesuai prinsip perusahaan, SSBP juga melakukan pengawasan ketat dari batas yang ada di Timur, Selatan, Barat, Utara dan Tengah.
“Kami tidak ingin lahan yang dipercayakan pemerintah kepada kami tidak terawat, dan di garap orang-orang yang hanya menginginkan keuntungan pribadi,” ucapnya
Ia mengatakan, kalau pun ada hektaran lahan perkebunan Ciliwung yang kondisi pohon teh nya seakan tidak terawat atau rusak, itu bukan faktor kesengajaan. Namun kondisi tersebut tak lain adalah salah satu konsekuensi perkebunan dari serangan hama yang kerap terjadi dalam siklus 4 tahunan.
Namun kondisi akan kembali pulih setelah ditangani ahli profesional di perusahaan ini.
Sementara, General Manager PT SSBP, dr. Sukiman menjelaskan, pada kondisi tertentu seperti musim kemarau secara otomatis hama itu meledak dan menyerang perkebunan teh ini.
“Nah kalau tidak musim kemarau walau kemarau nya biasa jadi kalau orang Sunda itu ada namanya dang dang rat itu ada panas ada hujan, panas lagi hujan lagi itu perkembang hama luar biasa,” ujar dr. Sukiman kepada wartawan belum lama ini.
Hama yang datang secara tiba-tiba memang menyulitkan pihak perkebunan meski akan datangnya hama tersebut telah di waspadai sebelumnya
“Kemarin saja kita sudah waspada, tetap masih kena hama,” ucapnya
Ia menambahkan, serangan hama pada perkebunan ini kerap terjadi di beberapa perkebunan teh. Bahkan, tanaman bisa benar benar habis ketika terserang ulat, itu sangat umum terjadi, namun bisa dipulihkan kembali dan yang mati bisa ditanam kembali
“Hama jenis ulat bisa merusak pohon teh hingga menyisakan batangnya saja,” terangnya
Terkait ini, managemen harus lebih sigap dari segala kebutuhannya seperti alatnya, SDM, metedoliginya dan inseknya.
“Kita harus persiapkan dengan baik jika ini semua disiapkan setidaknya bisa memitigasi resiko serangan hama tersebut,” tandasnya
Sebelumnya, pada tahun 2020 lalu sebagian perkebunan teh Ciliwung pernah diserang hama. Namun begitu, kondisi tersebut cepat kembali diselesaikan setelah ditangani tim profesional dari PT SSBP. (Yud)
























Discussion about this post