BogorOne.co.id | Kabupaten Bogor – Pencemaran Sungai Cileungsi di Kabupaten Bogor tak hanya mengganggu warga yang tinggal di sekitar aliran sungai. Bau menyengat yang muncul saat musim kemarau juga mulai memukul usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Cluster Montreal, Kota Wisata, Kecamatan Cileungsi.
Ketua RW 15, Endang Jamhari, mengatakan jumlah pengunjung sejumlah tempat usaha menurun sejak bau tak sedap dari sungai kembali mengganggu kawasan tersebut. Pelanggan yang biasanya makan di tempat kini lebih memilih membeli makanan untuk dibawa pulang.
“Semua pelaku usaha mengeluh, pengunjung yang biasanya ramai sekarang berkurang. Yang biasanya makan di tempat, sekarang lebih memilih dibungkus lalu pergi,” kata Endang, Rabu, 21 Oktober 2026.
Menurut Endang, bau menyengat dari Sungai Cileungsi dapat tercium hingga radius satu sampai dua kilometer. Kondisi itu memicu keluhan warga, bahkan sebagian memilih menutup pintu rumah untuk mengurangi bau yang masuk.
“Warga mengeluh kenapa sungai selalu bau setiap musim kemarau, baunya sangat menyengat, bahkan ada yang dekat rumah sampai tidak berani membuka pintu karena baunya minta ampun,” ujarnya.
Endang mengatakan persoalan pencemaran tersebut telah berulang kali dikoordinasikan dengan pemerintah desa, Persatuan Ketua RW se-Kota Wisata, hingga Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Bogor. Namun, bau menyengat dan perubahan warna air sungai kembali terjadi.
Ia menilai pencemaran Sungai Cileungsi menjadi pekerjaan rumah bagi Pemerintah Kabupaten Bogor, terutama DLH, untuk memastikan penanganan tidak sebatas merespons keluhan ketika pencemaran terjadi. Menurut dia, persoalan serupa juga dirasakan di sejumlah titik lain di kawasan Kota Wisata.
Endang berharap pemerintah menelusuri sumber pencemaran dan menindak perusahaan yang terbukti melanggar ketentuan pengelolaan limbah. Inspeksi lapangan dan penutupan saluran pembuangan, kata dia, perlu diikuti langkah yang mampu mencegah pencemaran berulang.
Penanganan yang menyeluruh dinilai penting agar dampak pencemaran tidak terus ditanggung masyarakat, termasuk warga yang terganggu bau sungai dan pelaku UMKM yang kehilangan pelanggan.
“Kami berharap ada solusi yang tepat dan berpihak kepada warga, cukup tahun ini saja seperti ini terjadi, ke depannya jangan sampai terulang lagi,” kata Endang.
Reporter : Yudi Surahman
Editor : R. Muttaqien























Discussion about this post