BogorOne.co.id | Ruteng – Sebanyak 1.479 warga atau 393 keluarga di Desa Barang, Kecamatan Cibal, Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur, masih bertahan di pengungsian hingga hari ke-13 setelah gempa mengguncang wilayah Flores.
Warga yang mengungsi kini membutuhkan tambahan bahan pangan bergizi dan tenda yang lebih layak. Sebagian belum berani kembali ke rumah karena bangunan mengalami kerusakan dan mereka masih khawatir terhadap gempa susulan.
Para pengungsi tersebar di dua posko utama di Dusun Barang dan Dusun Nundang. Sebagian lainnya menempati posko mandiri yang dibangun masyarakat.
Data Posko Tanggap Darurat Bencana Desa Barang mencatat 183 rumah mengalami kerusakan. Sebanyak 75 rumah masuk kategori rusak berat, 47 rusak sedang, dan 61 rusak ringan.
Salah seorang warga Dusun Barang, Adrianus Paju, mengatakan keluarganya belum dapat kembali ke rumah karena kondisinya sudah tidak memungkinkan untuk ditempati.
“Rumah kami rusak parah, tidak bisa lagi dihuni. Makanya kami masih bertahan di posko pengungsian,” kata Adrianus, Jumat (28/8/2026).
Pejabat sementara Kepala Desa Barang Patrisius Sunardi mengatakan kebutuhan logistik di lokasi pengungsian masih cukup besar. Selain makanan dan minuman, warga membutuhkan tempat tinggal sementara yang lebih memadai.
“Sejak hari pertama sampai saat ini, kami kekurangan logistik bahan makanan dan minuman. Termasuk masih banyak warga yang tinggal di tenda pengungsian darurat,” ujar Patrisius.
Pemerintah Kabupaten Manggarai telah mengirim tambahan tenda melalui Posko Tanggap Darurat Bencana. Namun, bantuan tersebut belum sebanding dengan jumlah warga yang masih mengungsi.
Menurut Patrisius, desa baru menerima lima unit tenda. Jumlah tersebut dinilai minim untuk menampung ribuan warga yang masih bertahan di pengungsian.
“Tadi kami sudah mendapatkan tenda dari BPBD Kabupaten Manggarai. Tenda yang ada ini kami dapat lima unit. Ini sangat minim kalau dibandingkan dengan jumlah pengungsi,” katanya.
Pengungsi Butuh Protein
Bantuan untuk warga terdampak sebenarnya telah datang dari sejumlah pihak, mulai dari pemerintah daerah, perorangan, partai politik, hingga kelompok masyarakat. Namun, kebutuhan pengungsi selama masa darurat masih belum seluruhnya terpenuhi.
Patrisius mengatakan warga tidak hanya membutuhkan beras, tetapi juga makanan yang mengandung protein dan sayuran.
“Kami sangat membutuhkan asupan protein seperti telur, ikan, dan sayur. Selama ini kami konsumsi sayur daun ubi, tetapi karena kemarau berkepanjangan, sekarang kami kesulitan,” ujarnya.
Kebutuhan khusus juga diperlukan bagi kelompok rentan, seperti bayi, lansia, ibu hamil, ibu menyusui, dan penyandang disabilitas.
Pemerintah Kabupaten Manggarai memperpanjang masa tanggap darurat gempa selama 14 hari. Perpanjangan dilakukan setelah masa tanggap darurat tahap pertama berakhir pada Jumat (28/8/2026).
Gempa bermagnitudo 7,7 mengguncang wilayah Flores pada 15 Agustus 2026. Kondisi warga yang masih membutuhkan bantuan dan belum dapat kembali ke rumah menjadi salah satu pertimbangan pemerintah memperpanjang masa tanggap darurat.
Faktor psikologis juga menjadi perhatian. Sebagian warga masih mengalami trauma dan memilih bertahan di tenda karena belum merasa aman kembali ke rumah.
Pada tahap kedua tanggap darurat, pemerintah akan memprioritaskan pemenuhan kebutuhan dasar warga, pendataan dan pemetaan kerusakan, serta perlindungan bagi masyarakat yang masih berada di pengungsian.
Pemerintah juga akan mempercepat penyediaan hunian sementara sembari menyiapkan rehabilitasi dan rekonstruksi wilayah yang terdampak gempa.
Editor : R. Muttaqien

























Discussion about this post