BogorOne.co.id | Kota Batu – Di lembah sejuk Kota Batu, tepatnya di kawasan Songgoriti, berdiri sebuah peninggalan sejarah dari abad ke-9. Candi Songgoriti, saksi bisu kejayaan Kerajaan Mataram Kuno, masih berdiri, meski tertutup rimbunnya pepohonan dan bayang-bayang masa lalu yang belum sepenuhnya terkuak.
Tak hanya menyimpan sejarah, kawasan ini juga menyimpan misteri. Dua mata air, satu panas dan satu dingin, mengalir berdampingan tak jauh dari kompleks candi. Masyarakat menyebutnya anugerah alam, tapi bagi sebagian lainnya, ini adalah pintu masuk ke dunia yang tak kasat mata.
Konon, air panas itu telah mengalir sejak zaman Belanda ke sebuah hotel tua yang disebut Badhotel. Berdiri pada 1911, hotel ini dulunya menjadi tempat persinggahan para bangsawan dan pejabat kolonial. Udaranya yang sejuk dianggap serupa dengan tanah Eropa, tempat yang pas untuk melepas penat di tanah jajahan.
Namun kini, bangunan tua itu tinggal cerita. Terbengkalai selama tiga tahun terakhir, Badhotel seolah kembali pada alam. Lorong-lorong gelapnya dipenuhi tanaman merambat, atapnya dihuni akar-akar yang mencengkeram, dan jendelanya seakan menyimpan tatapan dari masa silam.
Berdasarkan penelusuran wartawan ke dalam hotel memperlihatkan bagaimana waktu memperlambat langkahnya di sini. Kasur dan meja masih berdiri, air panas dari sumber dekat candi pun masih mengalir.
Tapi suasana lengang dan lembab itu membuat siapa pun bergidik. Di belakang hotel, di mana pemandian air panas modern kini berdiri, aura mistis masih membekas.
Tiga pohon beringin besar berdiri seperti penjaga setia masa lalu, sementara dua jembatan kayu rapuh menjadi penghubung antara yang nyata dan tak terlihat.
Tak sedikit nama-nama besar datang mencoba “berdialog” dengan arwah penghuni hotel ini. Sara Wijayanto, Risa Saraswati, hingga Raffi Ahmad dan Gilang Widya Pramana, pernah menantang nyali di sana.
Kisah mereka pun senada, makhluk tinggi menjulang hingga lima meter, perempuan berbaju putih mirip kuntilanak, hingga sosok perempuan bangsawan yang diyakini berasal dari masa kerajaan.
Warga sekitar pun tak menampik kehadiran mereka. Sunarto, salah seorang warga, mengaku pernah melihat penampakan perempuan di area candi yang kini tengah diekskavasi Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jawa Timur.
Ia menyebut kawasan ini pernah ditata oleh pemerintah kolonial pada 1921. Sistem instalasi air panas dibangun untuk menyokong rumah sakit Belanda yang pernah berdiri di area itu, berdampingan dengan candi yang lebih dulu menghuni tanah Songgoriti.
Kini, meski pemandian air panas modern mulai menggantikan kesan angker kawasan ini, aroma masa lalu masih membekas. Seakan Songgoriti tak ingin benar-benar melepaskan kisah lamanya, tentang candi, air panas, kolonial, dan makhluk-makhluk yang hanya bisa dilihat mereka yang peka.
























Discussion about this post