• INFO IKLAN
  • Redaksi
  • VISI dan MISI
  • Kode Etik Wartawan
  • Kode Perilaku Perusahaan Pers
  • Pedoman Media Cyber
  • Kebijakan Privasi
Senin, April 20, 2026
bogorone.co.id
  • Login
  • BERANDA
  • NEWS
  • BOGOR RAYA
  • NASIONAL
    • POLITIK
    • OLAHRAGA
    • PENDIDIKAN
  • PERISTIWA
  • PEMERINTAHAN
  • WISATA
    • BUDAYA
    • SENI
  • HISTORIS
bogorone.co.id
  • BERANDA
  • NEWS
  • BOGOR RAYA
  • NASIONAL
    • POLITIK
    • OLAHRAGA
    • PENDIDIKAN
  • PERISTIWA
  • PEMERINTAHAN
  • WISATA
    • BUDAYA
    • SENI
  • HISTORIS
Bogor One
No Result
View All Result
Home NASIONAL

Feodalisme Gaya Baru Tantangan Tata Kelola Negara di Indonesia

Redaksi by Redaksi
4 Juni 2025
in NASIONAL
0
Feodalisme Gaya Baru Tantangan Tata Kelola Negara di Indonesia
339
SHARES
411
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Oleh: Firdaus Roy (Seniman Goib)

BogorOne.co.id | Indonesia telah lama mendeklarasikan dirinya sebagai negara demokratis yang berlandaskan konstitusi dan prinsip kedaulatan rakyat.
Namun dalam praktiknya, sistem tata kelola negara masih mengandung banyak jejak feodalisme bukan dalam bentuk kerajaan, tapi dalam perilaku, struktur kekuasaan, dan budaya politik.

Feodalisme dalam Wajah Modern

Feodalisme hari ini bukan lagi soal raja dan bangsawan. Ia menjelma dalam bentuk elite kekuasaan yang sulit disentuh, penuh privilese, dan jauh dari rakyat.

BERITA LAINNYA

MAKI Sebut Penetapan Tersangka Ketua Ombudsman RI Sebagai Tragedi Pelayanan Publik

MAKI Sebut Penetapan Tersangka Ketua Ombudsman RI Sebagai Tragedi Pelayanan Publik

18 April 2026
SYARIKAT ISLAM: JANGAN HANYA JADI PENONTON DI NEGERI SENDIRI

SYARIKAT ISLAM: JANGAN HANYA JADI PENONTON DI NEGERI SENDIRI

17 April 2026
Pohon Tumbang hingga Longsor Warnai Cuaca Ekstrem di Bogor

Pakar: Kejagung Diminta Telusuri Dugaan Uang Aliran Dana Dalam Proses Pemilihan Ketua Ombudsman

17 April 2026
jemaah haji

Jemaah Haji Bawa Uang Tunai Rp 100 Juta Wajib Lapor ke Bea Cukai

16 April 2026

Di berbagai level, kita menyaksikan pejabat diperlakukan bak penguasa absolut: tidak bisa dikritik, enggan diawasi, dan kerap bertindak di luar batas etika publik.

Jabatan dianggap warisan atau titipan kekuasaan, bukan amanah. Putra-putri pejabat mewarisi kekuasaan, bukan karena prestasi, tapi karena “trah politik”.
Ini menandakan bahwa demokrasi kita mulai bergerak mundur dari meritokrasi ke oligarki berbalut demokrasi.

Mentalitas Penguasa, Bukan Pelayan

Dalam pola feodal, pejabat merasa dirinya berhak dilayani, bukan wajib melayani. Padahal dalam sistem demokrasi yang sehat, pejabat publik adalah abdi rakyat.

Namun realitanya, birokrasi kerap bersikap eksklusif, mempersulit pelayanan publik, dan alergi pada kritik. Tidak jarang pula aparatur negara lebih tunduk pada kekuasaan daripada pada hukum dan etika. Hal ini merusak kepercayaan publik dan menjauhkan negara dari prinsip good governance.

Budaya Asal Bapak Senang (ABS)

Feodalisme juga hadir dalam budaya kerja loyalitas pada atasan lebih penting dari kinerja. Pejabat bawah enggan mengkritik kebijakan pimpinan meski merugikan rakyat. Inilah budaya asal bapak senang (ABS) warisan kolonial yang tak kunjung sirna.

Di DPR, banyak anggota lebih tunduk pada kepentingan partai atau elite tertentu ketimbang memperjuangkan aspirasi konstituen. Di masyarakat, kritik pada pemimpin sering dianggap sebagai “tidak sopan”, bukan sebagai hak politik.

Feodalisme Menghambat Kemajuan

Feodalisme menutup ruang partisipasi publik, membungkam kritik, dan memperlebar kesenjangan sosial. Selama tata kelola negara masih dijalankan dengan pola patronase dan loyalitas personal, maka Korupsi akan sulit diberantas.

Kebijakan publik hanya menguntungkan segelintir elite. Rakyat makin teralienasi dari proses pengambilan keputusan.

Menuju Tata Kelola yang Demokratis

Untuk melawan feodalisme gaya baru, Indonesia butuh. Reformasi budaya birokrasi: pejabat adalah pelayan, bukan penguasa. Partisipasi publik nyata, bukan sekadar formalitas.

Transparansi dan akuntabilitas di semua lini. Pendidikan politik kritis sejak dini, agar rakyat tidak mudah dibungkam.

Demokrasi bukan hanya soal pemilu tiap lima tahun, tapi soal pemerintahan yang terbuka, akuntabel, dan berpihak pada semua bukan hanya kepada mereka yang “berdarah biru politik”.

Feodalisme dalam tata kelola negara adalah penyakit lama dalam sistem baru. Ia tak lagi pakai mahkota, tapi mengenakan jas birokrasi dan pin jabatan.

Jika tidak dilawan, ia akan terus membajak demokrasi dan menjauhkan Indonesia dari cita-cita keadilan sosial bagi seluruh rakyat.

Beberapa materi pendukung dari para ahli terkait dengan tema feodalisme dalam tata kelola negara di Indonesia. Ini bisa memperkuat argumen secara akademis dan memperkaya isi opini

Pandangan Para Ahli tentang Feodalisme dalam Pemerintahan Indonesia

1. Dr. Mochtar Lubis (Budayawan & Jurnalis)

Dalam esainya yang terkenal, “Manusia Indonesia”, Mochtar Lubis menyebutkan bahwa salah satu ciri manusia Indonesia adalah “feodal.”

Ia mengkritik mentalitas rakyat dan elite yang masih memelihara sikap tunduk pada kekuasaan, enggan berbeda pendapat, dan lebih mementingkan kesetiaan pribadi daripada kebenaran.

“Manusia indonesia cenderung feodal lebih senang menyenangkan atas dari pada menyuaran kebeneran,” (Mochtar Lubis)

2. Prof. Franz Magnis-Suseno (Filsuf & Akademisi)

Magnis menyebut bahwa feodalisme dalam birokrasi modern adalah bentuk “kuasa tanpa pertanggungjawaban.” Dalam negara demokratis, pejabat seharusnya bertanggung jawab ke bawah (rakyat), bukan hanya ke atas (elite).

“Birokrasi kita masih sangat feodal: siapa dekat kekuasaan, dialah yang menentukan arah; bukan suara rakyat.”
(F. Magnis-Suseno, dalam Etika Politik)

3. Dr. Daniel Dhakidae (Sosiolog)

Daniel Dhakidae menyatakan bahwa feodalisme politik di Indonesia lahir dari transplantasi kekuasaan kolonial ke dalam sistem demokrasi modern. Ia menyebut ini sebagai “feodalisme yang dimodernisasi.”

“Kita tidak hidup dalam demokrasi substantif, tapi dalam oligarki yang menggunakan demokrasi sebagai topeng.” (Daniel Dhakidae)

4. Prof. Faisal Basri (Ekonom UI)

Faisal Basri melihat feodalisme dalam konteks ekonomi-politik. Menurutnya, penguasaan sumber daya oleh elite dan keluarga pejabat adalah warisan feodal yang merusak sistem pasar dan persaingan sehat.

“Kita hidup dalam ekonomi yang dikendalikan oleh segelintir elite politik dan bisnis. Ini feodalisme modern dalam bentuk oligarki.”(Faisal Basri)

5. Prof. Syed Hussein Alatas (Sosiolog Malaysia, relevan secara regional)

Dalam bukunya “The Myth of the Lazy Native”, Alatas menjelaskan bagaimana feodalisme di Asia Tenggara bertahan karena elite lokal yang lebih mengabdi pada kekuasaan daripada pada rakyat. Hal ini masih bisa dilihat di banyak birokrasi negara-negara Asia, termasuk Indonesia.

“Feodalisme adalah penyakit elite yang lupa pada tanggung jawab sosialnya.”
(Syed Hussein Alatas)

Jadi dalam kesimpulan dapat kita pahami, feodalisme dalam tata kelola negara bukan sekadar warisan budaya, tapi juga produk dari sistem kekuasaan yang tidak transparan dan partisipatif.

Para ahli dari berbagai bidang sosiologi, ekonomi, hingga filsafat mengkritik kuat budaya penguasa yang tidak mau melayani, dan rakyat yang terlalu takut untuk bersuara. Satulah kemunduran kebebasan denokrasi pada zaman moderan saat ini

Sebagai penguat wawasan perlu disadari, feodalisme dalam “Tata Kelola Negara Indonesia Antara Budaya Kekuasaan dan Demokrasi Semu”
Seharusnya,tata kelola negara idealnya dibangun di atas prinsip demokrasi, transparansi, dan partisipasi publik.

Namun, dalam praktiknya, Indonesia kerap memperlihatkan pola kekuasaan yang mencerminkan sistem feodal yakni kekuasaan yang bersifat hirarkis, eksklusif, dan patronase.

Sebagai bahan kajian feodalisme dalam tata kelola negara Indonesia dari sudut pandang budaya politik, struktural, dan perilaku elite, serta dampaknya terhadap demokrasi dan pelayanan publik.

Analisis ini diperkuat dengan pandangan para ahli dan referensi akademik.

Semoga tulisan ini bermanfaat dan anak anak negeri ini mampu membumi haruskan sistem fiodalsisme yang membuat sekat sebagai melebar,
Antara pengambil kebijikan dengan rakyat itu sendiri. (F.R)

Tags: demokrasiFeodalismeGaya BaruIndonesiaTata Kelola Negara

Related Posts

MAKI Sebut Penetapan Tersangka Ketua Ombudsman RI Sebagai Tragedi Pelayanan Publik
NASIONAL

MAKI Sebut Penetapan Tersangka Ketua Ombudsman RI Sebagai Tragedi Pelayanan Publik

18 April 2026
SYARIKAT ISLAM: JANGAN HANYA JADI PENONTON DI NEGERI SENDIRI
NASIONAL

SYARIKAT ISLAM: JANGAN HANYA JADI PENONTON DI NEGERI SENDIRI

17 April 2026
Pohon Tumbang hingga Longsor Warnai Cuaca Ekstrem di Bogor
NASIONAL

Pakar: Kejagung Diminta Telusuri Dugaan Uang Aliran Dana Dalam Proses Pemilihan Ketua Ombudsman

17 April 2026
jemaah haji
NASIONAL

Jemaah Haji Bawa Uang Tunai Rp 100 Juta Wajib Lapor ke Bea Cukai

16 April 2026
Kasus LNG Corpus Christi: Dua Mantan Pejabat Pertamina Dituntut hingga 6,5 Tahun Penjara
NASIONAL

Kasus LNG Corpus Christi: Dua Mantan Pejabat Pertamina Dituntut hingga 6,5 Tahun Penjara

15 April 2026
Wamenaker RI Kunjungi RS UMMI Bogor, Apresiasi Program Magang
BOGOR RAYA

Wamenaker RI Kunjungi RS UMMI Bogor, Apresiasi Program Magang

14 April 2026
Next Post
HJB ke-543, Gubernur Jabar: Tanah Bogor Merupakan Tanah Pusaka

HJB ke-543, Gubernur Jabar: Tanah Bogor Merupakan Tanah Pusaka

Discussion about this post

BERITA POPULER

Peternak Maggot Bingung Jual Hasil Panen

Peternak Maggot Bingung Jual Hasil Panen

9 April 2021
Unik dan Tak Biasa, Mengenal Kesenian Bogor yang Indah Bersejarah

Unik dan Tak Biasa, Mengenal Kesenian Bogor yang Indah Bersejarah

8 April 2023
STIKES UMMI BOGOR Buka Pendaftaran Mahasiswa

STIKES UMMI BOGOR Buka Pendaftaran Mahasiswa

30 Mei 2022
KSP SB Adukan Upaya Penghentian Penyitaan Aset ke Ombudsman dan Komisi Yudisial

KSP SB Adukan Upaya Penghentian Penyitaan Aset ke Ombudsman dan Komisi Yudisial

16 September 2024
Pemilu 2024, Total TPS di Kota Bogor Sebanyak 2.913 TPS

Pemilu 2024, Total TPS di Kota Bogor Sebanyak 2.913 TPS

22 Juni 2023

DARI REDAKSI

Didukung Timnas Futsal, Rayendra – Eka Maulana Janji Prioritaskan Fasilitas Olahraga 

Didukung Timnas Futsal, Rayendra – Eka Maulana Janji Prioritaskan Fasilitas Olahraga 

7 Oktober 2024
Disperumkim

Disperumkim Kota Bogor Batasi Akses Alun-Alun demi Penataan PKL

4 Januari 2026
Mainkan Lagu Daerah, Puluhan Anak Semarakan Konser Biorama Musik Nusantara di Tangsel

Mainkan Lagu Daerah, Puluhan Anak Semarakan Konser Biorama Musik Nusantara di Tangsel

27 November 2022
Polbangtan Kementan Latih Petani Indramayu Operasikan Alsintan Modern

Polbangtan Kementan Latih Petani Indramayu Operasikan Alsintan Modern

6 Juli 2025

Tentang Kami

bogorone.co.id

Selamat Datang di Bogorone.co.id,
Portal Berita yang dikelola oleh PT BOGOR ONE NET MEDIA - SK Kemenkumham RI
No. AHU-0072.AH.01.02.TAHUN 2016

Telah diverifikasi oleh

Dewan Pers

Sertifikat Nomor 1422/DP-Verifikasi/K/X/2025

Info Iklan – Redaksi – Visi dan Misi – Kode Etik Wartawan – Kode Perilaku Perusahaan – Pedoman Media Cyber – Kebijakan Privasi

    The Instagram Access Token is expired, Go to the Customizer > JNews : Social, Like & View > Instagram Feed Setting, to refresh it.

© 2022 BogorOne - All Right Reserved.

No Result
View All Result
  • BERANDA
  • NEWS
  • BOGOR RAYA
  • NASIONAL
    • POLITIK
    • OLAHRAGA
    • PENDIDIKAN
  • PERISTIWA
  • PEMERINTAHAN
  • WISATA
    • BUDAYA
    • SENI
  • HISTORIS

© 2022 BogorOne - All Right Reserved.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In