BogorOne.co.id | Teheran – Pemimpin Tertinggi Iran, Mojtaba Ali Khamenei, menyerukan penghentian total dan tanpa syarat atas serangan Israel di Lebanon. Pada saat yang sama, ia kembali menegaskan dukungan Teheran terhadap Hizbullah sebagai bagian dari poros perlawanan di kawasan.
Pernyataan itu disampaikan melalui akun X @MKhamenei_ir pada Minggu (26/7/2026), sebagai respons atas surat pernyataan kesetiaan yang dikirim Sekretaris Jenderal Hizbullah bersama para anggotanya kepada Iran.
Dalam pernyataannya, Mojtaba menyebut penghentian agresi Israel dan terjaganya keutuhan wilayah Lebanon menjadi syarat utama bagi setiap upaya mengakhiri konflik yang melibatkan Amerika Serikat.
“Republik Islam Iran telah menetapkan pelestarian integritas teritorial Lebanon, dan penghentian mutlak dan tanpa syarat agresi rezim zionis sebagai syarat utama untuk setiap kesepakatan untuk mengakhiri perang yang dipaksakan terhadap Amerika Serikat (AS) yang agresif,” kata Mojtaba, seperti dikutip Anadolu, Senin, 27 Juli 2026.
Ia menggambarkan Hizbullah sebagai kekuatan yang tetap kokoh menghadapi tekanan Israel dan menyebut kelompok tersebut sebagai pelopor gerakan perlawanan di kawasan.
Mojtaba juga menilai masyarakat internasional semakin jenuh terhadap kebijakan Amerika Serikat dan Israel. Menurut dia, perlawanan menjadi satu-satunya jalan yang tersisa untuk menghadapi situasi tersebut.
“Bangsa-bangsa di dunia telah lelah dengan tirani dan penindasan AS dan Israel, yang merupakan penghancur kehidupan dan generasi. Tidak ada jalan ke depan kecuali jihad dan perlawanan,” ujarnya.
Di tengah pernyataan tersebut, situasi keamanan di Lebanon masih belum menunjukkan tanda-tanda mereda. Berdasarkan data resmi Pemerintah Lebanon, serangan Israel sejak 2 Maret telah menewaskan 4.330 orang dan melukai 12.236 lainnya.
Sebelumnya, Lebanon dan Israel menandatangani perjanjian kerangka kerja yang dimediasi Amerika Serikat pada Jumat (26/6/2026). Kesepakatan itu mengatur penarikan bertahap pasukan Israel dari wilayah Lebanon yang diduduki.
Meski demikian, perjanjian tersebut belum menetapkan tenggat waktu penarikan pasukan. Penarikan baru akan dilakukan setelah militer Lebanon mengambil alih tanggung jawab penuh atas keamanan di wilayah yang ditinggalkan tentara Israel serta melaksanakan pelucutan senjata kelompok-kelompok non-negara, termasuk Hizbullah. Hingga kini, Israel masih mempertahankan kehadiran militernya di sebagian wilayah Lebanon selatan.
Editor : R. Muttaqien


























Discussion about this post