BogorOne.co.id | Whasington – Amerika Serikat mempertimbangkan operasi militer terbatas terhadap Iran setelah kedua negara kembali terlibat baku serangan di kawasan Timur Tengah. Rencana itu disiapkan ketika Washington berupaya mencegah Teheran menyerang kapal-kapal yang melintas di Selat Hormuz.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump bersama para pejabat senior pemerintahannya tengah mempertimbangkan sejumlah opsi untuk merespons serangan Iran. Salah satu opsi yang dibahas adalah melanjutkan operasi militer dengan sasaran terbatas di wilayah Iran.
Dikutip dari Axios melalui News Arab, rencana tersebut disusun Komando Pusat AS (Centcom) dan mendapat dukungan Menteri Pertahanan Pete Hegseth.
Operasi yang dirancang bukan berupa perang terbuka berskala besar. Serangan akan diarahkan ke sejumlah fasilitas militer Iran, terutama lokasi rudal dan radar.
Seorang pejabat menggambarkan pendekatan itu sebagai “memotong rumput”, istilah yang sebelumnya digunakan pejabat militer Israel untuk menggambarkan serangan berkala terhadap sasaran militer di Gaza.
Seorang pejabat Gedung Putih mengatakan Trump belum mengambil keputusan akhir mengenai langkah yang akan ditempuh.
“Presiden mempertahankan semua opsi yang dimilikinya. Iran ingin membuat kesepakatan, tapi mereka selalu terlambat satu hari dan kekurangan satu dolar,” ujar pejabat tersebut.
Pertimbangan operasi militer muncul setelah AS dan Iran kembali saling menyerang pada akhir pekan. Ini menjadi pertukaran serangan langsung pertama dalam lebih dari sebulan, sekaligus memunculkan kekhawatiran konflik yang sempat mereda kembali meningkat.
Pada Minggu malam, militer AS mengatakan telah menyerang sejumlah peluncur roket Iran di Pulau Larak, wilayah strategis di dekat Selat Hormuz.
Washington menyebut serangan itu bertujuan mencegah Iran menanam ranjau di jalur pelayaran utama di selat tersebut. Media pemerintah Iran melaporkan dua orang tewas dan beberapa lainnya terluka akibat serangan itu.
Iran kemudian merespons dengan meluncurkan rudal dan drone ke sejumlah sasaran yang disebut berkaitan dengan pasukan AS di Yordania dan Uni Emirat Arab (UEA).
Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengatakan serangan rudal balistik terhadap dua pangkalan udara AS di Yordania menimbulkan kerusakan berat.
Militer Yordania mengatakan telah mencegat delapan rudal. Namun, pemerintah negara itu tidak menyebutkan dari mana rudal tersebut diluncurkan.
Trump mengatakan kepada Fox News bahwa hampir seluruh rudal yang diarahkan ke pasukan AS berhasil ditembak jatuh. Menurut dia, hanya satu rudal yang lolos, tetapi tidak menimbulkan ancaman.
Iran juga mengklaim menyerang personel AS di sebuah pangkalan udara di UEA serta menembak jatuh sebuah drone Amerika di atas Selat Hormuz.
Pemerintah UEA membenarkan telah mencegat sebuah drone di atas wilayah perairannya. Namun, Abu Dhabi membantah klaim bahwa Pangkalan Udara Al Minhad menjadi sasaran serangan Iran.
Selat Hormuz Jadi Titik Konflik
Pertukaran serangan terbaru berlangsung ketika AS dan Iran masih berselisih mengenai kendali atas Selat Hormuz.
Selama enam bulan perang, lalu lintas kapal di jalur strategis tersebut masih terbatas. Iran tetap memblokade jalur pelayaran komersial, sedangkan AS mempertahankan blokade laut dan berusaha memastikan kapal dapat melintas.
Sebelum perang, sekitar seperlima pasokan minyak dunia melewati Selat Hormuz. Karena itu, perebutan kendali atas jalur tersebut menjadi salah satu titik paling sensitif dalam konflik kedua negara.
Trump sebelumnya mengklaim Angkatan Laut AS telah menguasai Selat Hormuz. Washington bahkan menyebut selat itu sebagai wilayah AS dan pekan lalu mengumumkan telah menyelesaikan pembersihan bahan peledak dari jalur pelayaran.
Iran menolak klaim tersebut. Garda Revolusi Iran menyatakan mereka tetap bertanggung jawab atas keamanan jalur pelayaran di kawasan itu.
Pada Senin, Garda Revolusi Iran mengatakan sebuah kapal tanker minyak terbakar setelah menabrak dua ranjau di dekat selat ketika berusaha melewati rute yang disebut ilegal.
Militer AS membantah laporan tersebut.
“Tidak ada kapal yang menabrak ranjau di Selat Hormuz,” kata militer AS, seraya menyebut laporan tersebut sebagai disinformasi.
Iran Serukan Dialog
Di tengah meningkatnya ancaman serangan, Presiden Iran Masoud Pezeshkian tetap menyerukan penyelesaian melalui jalur diplomasi.
Dalam pertemuan puncak di Kyrgyzstan pada Senin (31/8/2026), Pezeshkian mengatakan pemerintahannya masih berupaya mencapai kesepakatan dengan pihak-pihak terkait.
“Kami terus mengupayakan jalur kesepakatan dan pemahaman, dan kami percaya bahwa melanjutkan perang bukanlah demi kepentingan kami, atau demi kepentingan kawasan,” kata Pezeshkian.
Menurut dia, persoalan yang dihadapi kedua pihak hanya dapat diselesaikan melalui dialog dan kerja sama.
Namun, pada saat yang sama, Teheran mengeluarkan peringatan keras kepada negara-negara yang dianggap membantu operasi militer AS.
Staf Umum Angkatan Bersenjata Iran dan Markas Besar Pusat Khatam al-Anbiya mengatakan setiap fasilitas yang digunakan untuk melancarkan serangan AS terhadap Iran akan menjadi sasaran.
Iran menuding Washington memanfaatkan wilayah, ruang udara, dan fasilitas negara-negara di kawasan untuk menjalankan operasi militer.
Teheran mengatakan menghormati kedaulatan negara-negara tetangga. Namun, Iran memperingatkan tidak akan menoleransi agresi.
Iran juga mengancam akan memberikan respons lebih berat jika serangan kembali dilakukan. Negara-negara yang membantu atau memfasilitasi operasi AS turut diperingatkan.
“Jangan menguji lagi tekad angkatan bersenjata Iran,” demikian pernyataan tersebut.
Diplomasi Kembali Buntu
Ketegangan terbaru terjadi setelah upaya diplomasi antara AS dan Iran berulang kali gagal menghasilkan penghentian perang yang bertahan lama.
Konflik antara kedua negara dipicu gelombang serangan AS dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari. Setelah enam bulan perang, kedua pihak masih belum menemukan titik temu.
AS terakhir kali menyerang Iran pada 29 Juli. Sebelumnya, Washington melancarkan serangkaian serangan selama 13 malam berturut-turut pada awal Juli.
Pemerintahan Trump dalam beberapa pekan terakhir juga menggeser pendekatan dengan menekankan tekanan ekonomi terhadap Teheran.
Trump pada Senin kembali menyerang Iran melalui media sosial. Ia mengatakan kekuatan militer dan kondisi keuangan Iran telah hancur, sementara kepemimpinan negara tersebut dinilai tidak mampu menjalankan pemerintahan.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi sebelumnya menuding Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mendorong Washington terlibat dalam perang melawan Iran.
Kebuntuan diplomasi dan perebutan kendali atas Selat Hormuz kini kembali menjadi sumber ketegangan. Rencana serangan terbatas yang tengah dipertimbangkan Washington berpotensi memperbesar konflik jika Iran memberikan respons militer baru.
Editor : R. Muttaqien

























Discussion about this post