BogorOne.co.id | Jakarta – Keracunan makanan biasanya membuat seseorang mengalami mual, muntah, diare, atau sakit perut. Namun, pada kondisi yang berat, gangguan kesehatan akibat makanan juga bisa disertai kebingungan, perubahan kesadaran, bahkan kejang.
Hal itu menjadi perhatian setelah Febiona, 16 tahun, siswi asal Sumatera Utara, dilaporkan mengalami keracunan setelah menyantap Makan Bergizi Gratis (MBG). Setelah menjalani perawatan di rumah sakit, Febiona disebut mengalami gangguan ingatan.
Orang tua Febiona mengatakan perubahan itu terjadi setelah anaknya sempat mengalami kejang dan kembali menjalani perawatan. Febiona bahkan disebut tidak lagi mengenali keluarga dan teman-teman sekolahnya.
Lantas, apakah keracunan makanan memang bisa menyebabkan seseorang kehilangan ingatan?
Jawabannya tidak sesederhana itu. Keracunan makanan pada dasarnya tidak secara langsung menyebabkan seseorang kehilangan ingatan. Namun, kondisi yang menyertai keracunan makanan dapat memengaruhi kerja otak.
Muntah dan diare bisa membuat tubuh kekurangan cairan
Salah satu risikonya adalah dehidrasi atau kekurangan cairan.
Muntah dan diare yang terjadi berulang kali membuat tubuh kehilangan cairan sekaligus elektrolit. Jika jumlahnya banyak dan tidak segera digantikan, kondisi ini dapat menjadi serius.
Ketika tubuh kekurangan cairan dan elektrolit dalam jumlah besar, fungsi otak juga dapat terganggu. Seseorang bisa menjadi lemas, sulit berkonsentrasi, bingung, atau mengalami perubahan kesadaran.
Kondisi seperti itu terkadang terlihat seperti gangguan ingatan. Seseorang mungkin tidak mampu mengenali lingkungan sekitar atau mengingat informasi dengan baik.
Namun, kondisi tersebut tidak otomatis berarti orang tersebut mengalami kehilangan ingatan permanen.
Ada juga infeksi yang bisa menyerang otak
Gangguan pada otak juga dapat terjadi jika keracunan atau infeksi yang berasal dari makanan berkembang menjadi lebih serius.
Salah satu contohnya adalah infeksi bakteri Listeria monocytogenes. Bakteri ini dapat menular melalui makanan dan pada sebagian kasus bisa menyebar ke sistem saraf.
Menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC), infeksi Listeria yang menyerang sistem saraf dapat menyebabkan sakit kepala, kebingungan, kaku leher, gangguan keseimbangan, hingga kejang.
Ketika fungsi sistem saraf terganggu, seseorang dapat mengalami kesulitan berkonsentrasi, memahami keadaan di sekitarnya, atau mengingat informasi.
Karena itu, istilah “hilang ingatan” yang digunakan sehari-hari belum tentu sama dengan diagnosis medis berupa kehilangan memori.
Tidak semua keracunan makanan berakhir seperti itu
Penting untuk dipahami bahwa sebagian besar kasus keracunan makanan tidak otomatis menyebabkan gangguan pada otak.
Gejala seperti muntah dan diare umumnya berkaitan dengan saluran pencernaan. Risiko gangguan yang lebih serius muncul ketika kondisi tersebut menyebabkan dehidrasi berat, infeksi menyebar, atau muncul komplikasi lain.
Karena itu, kasus Febiona tidak dapat langsung disimpulkan sebagai gangguan ingatan akibat keracunan makanan.
Riwayat kejang dan perubahan kemampuan mengenali orang di sekitarnya justru menjadi alasan kondisi tersebut perlu diperiksa lebih lanjut oleh dokter. Pemeriksaan diperlukan untuk mengetahui apakah gangguan tersebut berkaitan dengan infeksi, dehidrasi, kejang, atau penyebab lain.
Kapan harus segera ke rumah sakit?
Keracunan makanan perlu mendapat perhatian lebih jika seseorang tidak hanya mengalami muntah atau diare, tetapi juga menunjukkan tanda-tanda seperti kebingungan, perubahan kesadaran, kejang, atau kesulitan mengenali lingkungan sekitar.
Gejala tersebut bukan lagi sekadar masalah pencernaan dan membutuhkan pertolongan medis segera.
Dengan kata lain, keracunan makanan memang dapat berkaitan dengan gangguan fungsi otak dalam kondisi tertentu. Tetapi, kehilangan ingatan bukanlah gejala umum keracunan makanan dan penyebabnya harus dipastikan melalui pemeriksaan medis.
Editor : R. Muttaqien

























Discussion about this post