BogorOne.co.id | Kota Bogor – Berdasarkan catatan Dinas Kesehatan Kota Bogor, sepanjang 2020 terdapat 43 bayi dan 81 ibu yang terkonfirmasi positif Covid-19 dengan kondisi sedang hamil 64 orang, bersalin 13 orang dan menyusui 4 orang.
Wali Kota Bogor Bima Arya mengatakan,
dari data tersebut, tercatat ada 1 ibu yang meninggal karena Covid-19 dan tidak ada satupun angka kematian pada bayi karena Covid-19 di Kota Bogor. Hal itu diungkapkan Bima saat meninjau Rumah Sakit Khusus Ibu dan Anak (RSKIA) Sawojajar, Pabaton, Bogor Tengah, Selasa (26/01/21).
Bima mengaku, peninjauan ini dilakukan untuk melihat langsung penambahan fasilitas layanan kesehatan (fasyankes) dalam penanganan Covid-19 di Kota Bogor. “Saya terima kasih RSKIA Sawojajar ini bisa menambah fasilitas itu, khususnya untuk ibu dan anak. Kita ingin kluster keluarga ini bisa ditekan,” ungkap Bima.
Dalam kesempatan tersebut, Bima Arya didampingi Direktur RSKIA Sawojajar dr. Rd. Yunina Endang Sari melihat secara langsung fasilitas tambahan. Total ada 19 tempat tidur yang disiapkan khusus untuk penanganan Covid-19 disini, terdiri dari 2 ruang HCU, 4 ruang Perina (ruang perawatan untuk bayi dengan kondisi yang kurang baik dan memerlukan observasi lebih lanjut) dan 13 perawatan isolasi.
RSKIA Sawojajar ini juga menyiagakan 1 unit OK (ruang operasi) tekanan negatif dan 1 unit VK (ruang bersalin) tekanan negatif. “Kita terus berikhtiar dengan fokus kepada dua hal. Yang pertama adalah usaha untuk meningkatkan bed occupancy ratio (BOR),” tambahnya.
Hingga Senin (25/1) kasus aktif Covid-19 di Kota Bogor hampir menyentuh 1.500 atau tepatnya 1.427. dengan kondisi demikian Pemerintah pun dibuat gelisah. Pasalnya, ketersediaan tempat tidur bagi pasien corona di rumah sakit (RS) se-Kota Hujan hanya 744.
“Masih ada defisit 800 tempat tidur. Keberadaan RS Lapangan dan konversi 35 persen tempat tidur ruang rawat inap bagi pasien Covid-19 di seluruh RS dan keberadaan RS Lapangan pun tetap kurang,” ujar Wakil Wali Kota Bogor, Dedie A. Rachim kemarin.
Masih kata Dedie, saat ini kondisi RS Lapangan telah full diisi pasien. Dengan demikian, sambungnya, mau tak mau Pemkot Bogor wajib menambah ruang isolasi dan menaikan kapasitas RS.
“Memang tak semua RS. Sebab, pasien non covid harus ditangani juga. Jadi adanya RS Lapangan ini tidak menyelesaikan,” kata Dedie.
Selain itu, kekurangan tempat tidur pun berbanding lurus dengan tenaga kesehatan (nakes) dan dokter spesialis yang direkrut. “Makanya kami mengupayakan adanya tambahan ruang perawatan baik gejala ringan, sedang dan berat. ICU dan ICCU pun akan ditambah,” katanya.
Ia menuturkan, apabila melihat prediksi di akhir tahun 2021, dimana akan ada lonjakan menjadi 17 ribu kasus. Paling tidak, sambungnya, kapasitas tampung RS mesti di atas 1.000 tempat tidur. Atas dasar itu, saat ini pemkot tengah mempersiapkan hotel untuk dijadikan ruang rawat inap.
“Tapi kan tidak mudah mencari hotel maupun RS yang jendelanya bisa dibuka dan tak menggunakan ac sentral dan memakai ac split. Sebab dalam menangani covid tidak boleh begitu, virus bisa nyebar kemana-mana. Makanya harus pakai heva filter,” tuturnya.
Dedie menambahkan, apabila ruang rawat inap ditambah, tentunya mesti dibarengi dengan penambahan nakes. “Misalnya, bila di RS Lapangan ditambah 70 tempat tidur lagi. Harus ada 120 nakes yang direkrut, karena RS itu kan 24 jam, jadi mesti digunakan sistem shift,” bebernya.
Terakhir mantan pejabat KPK itu mengatakan, saat ini di Kota Bogor terdapat 9.566 nakes yang terdaftar melalui sistem infoemasi sumber daya kesehatan. Namun, Dedie menilai bahwa jumlah itu masih kurang lantaran tak semuanya menangani pasien covid. (Red)























Discussion about this post