BogorOne.co.id | Cibinong – Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, ditengah kebijakan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat) penjual hewan kurban agak sepi peminat. Sehingga para pedagang rela banting harga.
Di Kecamatan Cibinong, Kabupaten Bogor misalnya, para pedagang harus memutar otak agar tetap bisa menjual dagangannya di tengah pandemi Covid-19. Salah satunya dengan memberikan diskon harga untuk memancing pembeli.
Pedagang hewan kurban Jaharudin misalnya. Ia memberikan diskon sebesar 2-10 persen kepada warga yang mencari sapi untuk hewan kurban.
Pria asal Nusata Tenggara Barat (NTB) itu memasarkan dagangannya tak jauh dari Simpang Pondokrajeg – Cikaret. Dia berpendapat bahwa strategi open discount atau diskon terbuka ini dilakukan agar sapi yang dipasarkannya tetap laku.
Karena Jaharudin tak ingin penjualannya menurun. Dia menceritakan, Idul Adha kali ini menjadi tahun ke-10 ia berjualan di lokasi tersebut.
Untuk tahun ini, dirinya menyetok 200 ekor sapi untuk ditawarkan ke masyarakat yang ingin berkurban. Sapi yang dijual memiliki harga variarif, mulai dari Rp14 juta hingga Rp30 juta.
Diakui dia, bahwa strategi diskon tersebut terbukti cukup ampuh. Buktinya, dari 200 ekor sapi yang dijual, hanya tinggal tersisa 50 ekor. Selebihnya telah ludes terjual.
Dia mengaku, strategi obral diskon cukup efektif untuk para konsumen dikarenakan adanya PPKM darurat membuat sejumlah pengusaha kekurangan pendapatan.
“Jadi dengan memberi diskon harga sapi, satu-satunya cara kita bisa bertahan,” ujar Jaharudin seperti dilansir Metropolitan.id, Rabu (14/07/21).
Dirinya juga mengungkapkan, ada perbedaan pola pembelian konsumen dibanding tahun lalu. Jika di awal pandemi masyarakat cenderung mencari sapi di bawah harga pasaran di tempatnya.
Tetapi, kini ia justru kebanjiran pesanan untuk sapi berukur super atau di atas harga Rp20 juta.
“Ya, tahun ini konsumen malah meningkat, membeli di harga Rp20 juta ke atas. Yang membeli dibawah 20 itu agak berkurang,” ungkapnya.
Meski demikian, penjualan di masa PPKM Darurat ini bukan tanpa kendala. Konsumen Jaharudin mengaku sedikit terhambat untuk melihat langsung sapi-sapi yang dijualnnya karena banyaknya penyekatan aktifitas masyarakat.
“Kebanyakan konsumen yang ingin datang terhambat karena jalannya ditahan atau terdapak penyekatan,” tandasnya. (Fry)























Discussion about this post