• INFO IKLAN
  • Redaksi
  • VISI dan MISI
  • Kode Etik Wartawan
  • Kode Perilaku Perusahaan Pers
  • Pedoman Media Cyber
  • Kebijakan Privasi
Kamis, April 16, 2026
bogorone.co.id
  • Login
  • BERANDA
  • NEWS
  • BOGOR RAYA
  • NASIONAL
    • POLITIK
    • OLAHRAGA
    • PENDIDIKAN
  • PERISTIWA
  • PEMERINTAHAN
  • WISATA
    • BUDAYA
    • SENI
  • HISTORIS
bogorone.co.id
  • BERANDA
  • NEWS
  • BOGOR RAYA
  • NASIONAL
    • POLITIK
    • OLAHRAGA
    • PENDIDIKAN
  • PERISTIWA
  • PEMERINTAHAN
  • WISATA
    • BUDAYA
    • SENI
  • HISTORIS
Bogor One
No Result
View All Result
Home NASIONAL

ETIKATABILITAS DAN INTELEKTUALITAS SEBAGAI PRA-SYARAT ELEKTABILITAS DAN KEPEMIMPINAN DALAM MORAL POLITIK

Redaksi by Redaksi
14 November 2025
in NASIONAL
0
ETIKATABILITAS DAN INTELEKTUALITAS SEBAGAI PRA-SYARAT ELEKTABILITAS DAN KEPEMIMPINAN DALAM MORAL POLITIK

Ketua Umum Forum Anak Negeri Nusantara, Firdaus (Bung Roy) Seniman Goib.

52
SHARES
52
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Oleh : Ketua Umum Forum Anak Negeri Nusantara
Firdaus (Bung Roy)
Seniman Goib

BogorOne.co.id – Artikel ini menganalisis urgensi etikatabilitas dan intelektualitas sebagai fondasi moral politik yang harus mendahului elektabilitas dan kepemimpinan dalam sistem demokrasi modern. Melalui pendekatan teoretis yang merujuk pada pemikiran Aristoteles, Max Weber, dan literatur kontemporer seperti Diamond (2004) serta Burns (1978), artikel ini menunjukkan bahwa legitimasi politik yang kuat hanya dapat dibangun melalui integritas moral dan kapasitas intelektual. Elektabilitas diposisikan bukan sebagai tujuan utama, melainkan sebagai konsekuensi dari kepercayaan publik terhadap moralitas dan kompetensi seorang politisi. Kesimpulannya, politik yang sehat memerlukan urutan etik etikatabilitas intelektualitas elektabilitas kepemimpinan. Urutan ini dianggap sebagai syarat fundamental bagi lahirnya kepemimpinan transformatif yang berkelanjutan.

Kata kunci Moral politik, etikatabilitas, intelektualitas, elektabilitas, kepemimpinan.

Dalam realitas politik Indonesia dan global, persoalan moralitas pemimpin menjadi pusat perhatian publik. Banyak penelitian menunjukkan bahwa krisis kepemimpinan biasanya berakar pada hilangnya integritas dan rendahnya kapasitas intelektual elite politik (Kane & Patapan, 2012). Namun dalam praktik politik elektoral, elektabilitas seringkali diletakkan sebagai prioritas utama sehingga proses pencarian pemimpin lebih dikuasai oleh strategi pencitraan dan manipulasi opini publik.

BERITA LAINNYA

Kasus LNG Corpus Christi: Dua Mantan Pejabat Pertamina Dituntut hingga 6,5 Tahun Penjara

Kasus LNG Corpus Christi: Dua Mantan Pejabat Pertamina Dituntut hingga 6,5 Tahun Penjara

15 April 2026
Wamenaker RI Kunjungi RS UMMI Bogor, Apresiasi Program Magang

Wamenaker RI Kunjungi RS UMMI Bogor, Apresiasi Program Magang

14 April 2026
Biaya Haji 2026

Pemerintah Siapkan Skema Penyangga, Kenaikan Biaya Haji 2026 Tak Dibebankan ke Jemaah

14 April 2026
Menggugat Kebenaran Agama ‘Refleksi Antropologi Sistem’

Menggugat Kebenaran Agama ‘Refleksi Antropologi Sistem’

11 April 2026

Situasi ini selaras dengan peringatan Mahatma Gandhi tentang “politics without principles” sebagai salah satu dosa besar dalam kehidupan sosial. Politik tanpa etika melemahkan kepercayaan publik dan merusak fondasi demokrasi. Oleh karena itu, artikel ini berargumen bahwa etikatabilitas dan intelektualitas harus ditempatkan sebagai prasyarat moral dalam proses pembentukan kepemimpinan politik.

Moral Politik Aristoteles dalam Nicomachean Ethics menegaskan bahwa tujuan tertinggi politik adalah mencapai summum bonum, yaitu kebaikan bersama. Ini menegaskan bahwa moral bukan pelengkap, melainkan inti dari praktik politik.

Etikatabilitas, Max Weber mengembangkan konsep ethic of responsibility yang menuntut pemimpin untuk mampu mempertanggungjawabkan setiap tindakan politiknya. Etikatabilitas meliputi integritas moral, kejujuran, konsistensi, dan kemampuan menjaga kepercayaan publik.

Franz Magnis-Suseno (1999) juga menekankan bahwa etika politik hadir untuk mencegah penyalahgunaan kekuasaan dan manipulasi publik.

Intelektualitas,Dye (2013) dalam Understanding Public Policy menjelaskan bahwa kapasitas intelektual diperlukan untuk analisis kebijakan yang rasional dan berbasis data. Tanpa kapasitas intelektual, kebijakan berpotensi menjadi populis dan tidak efektif.

Elektabilitas, Diamond (2004) berpendapat bahwa elektabilitas adalah refleksi dari public trust, bukan sekadar popularitas atau kekuatan kampanye. Elektabilitas yang tidak bertumpu pada moral rawan melahirkan pemimpin populis yang mengabaikan norma demokrasi.

Kepemimpinan menurut Burns (1978) dan Bass & Avolio (1994) menekankan bahwa kepemimpinan transformatif berangkat dari integritas moral dan visi intelektual yang kuat. Pemimpin yang hanya mengandalkan elektabilitas tanpa moral tidak mampu menciptakan perubahan yang bermakna.

Kerangka Konseptual

Etikatabilitas dasar legitimasi moral.
Intelektualitas dasar kompetensi.
Elektabilitas hasil dari moral dan kompetensi.
Kepemimpinan realisasi kekuasaan yang bertanggung jawab.

Urutan ini dipandang sebagai formula politik berkelanjutan yang mampu menghasilkan pemimpin berkarakter dan berkapasitas.

Mengapa Etikatabilitas Didahulukan

Etikatabilitas memastikan bahwa proses memperoleh kekuasaan dilakukan secara bermoral. Beetham (1991) menegaskan bahwa legitimasi kekuasaan hanya sah apabila berakar pada prinsip moral dan norma sosial yang diakui masyarakat. Pemimpin tanpa etikatabilitas cenderung terjebak pada korupsi, politik uang, dan manipulasi informasi.

Intelektualitas sebagai Penguat Legitimasi

Etikatabilitas tanpa kapasitas intelektual berpotensi menghasilkan pemimpin yang jujur tetapi tidak efektif. Intelektualitas menjadi alat bagi pemimpin untuk mengelola kebijakan publik, memecahkan masalah, dan memimpin secara modern. Yukl (2010) menyatakan bahwa kapasitas analitis dan kemampuan manajerial adalah unsur inti kepemimpinan efektif.

Elektabilitas sebagai Konsekuensi

Elektabilitas yang dibangun tanpa moral dan intelektualitas akan menghasilkan pemimpin populis. Zakaria (1997) menyebut fenomena ini sebagai illiberal democracy, yaitu demokrasi yang hanya mengutamakan pemilihan tetapi tidak mengutamakan kualitas pemimpin.

Sebaliknya, elektabilitas yang lahir dari integritas dan kapasitas intelektual menciptakan kepercayaan publik yang stabil.

Kepemimpinan sebagai Puncak Pembentukan Moral Politik

Kepemimpinan tidak dipahami sebagai posisi, tetapi sebagai output dari proses moral. Burns (1978) menyatakan bahwa pemimpin transformatif tidak hanya berusaha mendapatkan kekuasaan, tetapi membangun nilai yang mengubah masyarakat.

Kepemimpinan yang lahir melalui proses moral yang benar akan menghasilkan kebijakan berorientasi publik, bukan kebijakan transaksional atau partisan.

Politik yang berperadaban mensyaratkan urutan nilai dan kapasitas yang tepat: etikatabilitas, intelektualitas, elektabilitas, dan kepemimpinan. Etikatabilitas menjadi fondasi moral untuk memperoleh kekuasaan, intelektualitas menjadi kapasitas untuk mengelola kekuasaan, elektabilitas menjadi legitimasi publik atas moral dan kapasitas seorang politisi, sementara kepemimpinan menjadi puncak manifestasi dari proses tersebut.

Dalam konteks demokrasi Indonesia, penguatan moral politik harus menjadi prioritas utama untuk mencegah politik transaksional dan populisme semu. Dengan demikian, politik tidak hanya menjadi mekanisme perebutan kekuasaan, tetapi sarana membangun martabat bangsa.(F.R)

Related Posts

Kasus LNG Corpus Christi: Dua Mantan Pejabat Pertamina Dituntut hingga 6,5 Tahun Penjara
NASIONAL

Kasus LNG Corpus Christi: Dua Mantan Pejabat Pertamina Dituntut hingga 6,5 Tahun Penjara

15 April 2026
Wamenaker RI Kunjungi RS UMMI Bogor, Apresiasi Program Magang
BOGOR RAYA

Wamenaker RI Kunjungi RS UMMI Bogor, Apresiasi Program Magang

14 April 2026
Biaya Haji 2026
NASIONAL

Pemerintah Siapkan Skema Penyangga, Kenaikan Biaya Haji 2026 Tak Dibebankan ke Jemaah

14 April 2026
Menggugat Kebenaran Agama ‘Refleksi Antropologi Sistem’
NASIONAL

Menggugat Kebenaran Agama ‘Refleksi Antropologi Sistem’

11 April 2026
Terobosan Dedi Mulyadi: Bayar Pajak Kendaraan di Jabar Kini Cukup Bawa STNK dan KTP Pengguna
NASIONAL

Terobosan Dedi Mulyadi: Bayar Pajak Kendaraan di Jabar Kini Cukup Bawa STNK dan KTP Pengguna

11 April 2026
biaya haji 2026
NASIONAL

Biaya Haji 2026 Dipastikan Tak Naik, Pemerintah Cari Skema Penutup Selisih

9 April 2026
Next Post
Peringatan Hari Pahlawan Nasional Adityawarman Adil Ajak Pemuda Kota Bogor Ikuti Jejak Pahlawan

Peringatan Hari Pahlawan Nasional Adityawarman Adil Ajak Pemuda Kota Bogor Ikuti Jejak Pahlawan

Discussion about this post

BERITA POPULER

Peternak Maggot Bingung Jual Hasil Panen

Peternak Maggot Bingung Jual Hasil Panen

9 April 2021
Unik dan Tak Biasa, Mengenal Kesenian Bogor yang Indah Bersejarah

Unik dan Tak Biasa, Mengenal Kesenian Bogor yang Indah Bersejarah

8 April 2023
STIKES UMMI BOGOR Buka Pendaftaran Mahasiswa

STIKES UMMI BOGOR Buka Pendaftaran Mahasiswa

30 Mei 2022
KSP SB Adukan Upaya Penghentian Penyitaan Aset ke Ombudsman dan Komisi Yudisial

KSP SB Adukan Upaya Penghentian Penyitaan Aset ke Ombudsman dan Komisi Yudisial

16 September 2024
Pemilu 2024, Total TPS di Kota Bogor Sebanyak 2.913 TPS

Pemilu 2024, Total TPS di Kota Bogor Sebanyak 2.913 TPS

22 Juni 2023

DARI REDAKSI

Ratusan Pelajar dan Guru SMP Ikuti Safari Jurnalistik PWI Kota Bogor

Ratusan Pelajar dan Guru SMP Ikuti Safari Jurnalistik PWI Kota Bogor

20 Februari 2023
KPK Berencana Gelar Pelatihan Pola Hidup Sederhana Bagi Pejabat

KPK Berencana Gelar Pelatihan Pola Hidup Sederhana Bagi Pejabat

4 Mei 2023
Dukungan Milenial dan Gen Z Untuk Atang Annida Terus Mengalir

Dukungan Milenial dan Gen Z Untuk Atang Annida Terus Mengalir

9 Oktober 2024
Desa Pasir Eurih  Rawan Jambret, Seorang Pelajar Jadi Korban

Desa Pasir Eurih  Rawan Jambret, Seorang Pelajar Jadi Korban

12 Mei 2022

Tentang Kami

bogorone.co.id

Selamat Datang di Bogorone.co.id,
Portal Berita yang dikelola oleh PT BOGOR ONE NET MEDIA - SK Kemenkumham RI
No. AHU-0072.AH.01.02.TAHUN 2016

Telah diverifikasi oleh

Dewan Pers

Sertifikat Nomor 1422/DP-Verifikasi/K/X/2025

Info Iklan – Redaksi – Visi dan Misi – Kode Etik Wartawan – Kode Perilaku Perusahaan – Pedoman Media Cyber – Kebijakan Privasi

    The Instagram Access Token is expired, Go to the Customizer > JNews : Social, Like & View > Instagram Feed Setting, to refresh it.

© 2022 BogorOne - All Right Reserved.

No Result
View All Result
  • BERANDA
  • NEWS
  • BOGOR RAYA
  • NASIONAL
    • POLITIK
    • OLAHRAGA
    • PENDIDIKAN
  • PERISTIWA
  • PEMERINTAHAN
  • WISATA
    • BUDAYA
    • SENI
  • HISTORIS

© 2022 BogorOne - All Right Reserved.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In