BogorOne.co.id | Maros – Puluhan siswa Sekolah Dasar (SD) di Desa Bonto Manurung, Kecamatan Tompobulu, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan, harus menyeberangi sungai selebar lebih dari 100 meter setiap hari untuk pergi dan pulang sekolah. Mereka menggunakan gondola darurat yang ditarik secara manual karena tidak adanya jembatan permanen.
“Gondola ini ditarik lima orang bergantian. Tidak ada jembatan, jadi kami harus menggunakan alat ini,” ujar Misra, salah seorang siswa, dikutip dari beritasatu.com, Minggu, 31 Agustus 2025.
Gondola darurat tersebut telah digunakan selama dua tahun. Alat ini dibuat secara swadaya oleh seorang warga dengan dana pribadi, sebagai solusi sementara untuk menghubungkan Desa Bonto Manurung dengan Desa Bontomatinggi.
Kondisi menjadi lebih sulit saat musim hujan, ketika arus sungai deras memaksa siswa meliburkan diri karena risiko menyeberang terlalu tinggi. Sedangkan pada musim kemarau, warga kadang memilih berjalan kaki atau menggunakan jembatan alternatif dari kayu dan batu.
“Kalau air surut, masyarakat membuat jembatan kayu dan susunan batu agar bisa dilewati sepeda motor. Tapi saat air naik, arus bisa mencapai enam sampai tujuh meter dan sangat deras,” kata Yustandi, Sekretaris Desa Bonto Manurung.
Hingga kini, pemerintah belum membangun jembatan permanen di lokasi tersebut. Warga berharap akses vital ini segera mendapat perhatian serius. Untuk solusi sementara, pihak desa berencana memasang dinamo agar gondola bisa bergerak otomatis tanpa harus ditarik manual.
Editor : R. Muttaqien
























Discussion about this post