BogorOne.co.id | Jakarta – Harga emas global mengalami tekanan sepanjang pekan ini akibat dominasi tren bearish di pasar. Pelaku pasar kini menanti rilis data tenaga kerja Amerika Serikat (non-farm payroll/NFP) yang dijadwalkan pada akhir pekan depan, dan diperkirakan menjadi faktor utama penggerak harga logam mulia tersebut.
Analis Dupoin Futures Indonesia, Andy Nugraha, menyebut harga emas sempat naik tipis sebesar 0,2% pada Senin, 28 Juli 2025, dipicu pelemahan dolar AS usai kesepakatan tarif 15% antara Amerika Serikat dan Uni Eropa. Namun, harga kembali terkoreksi ke kisaran US$ 3.311 per troi ons, mendekati posisi terendah dalam tiga pekan terakhir.
“Tren tekanan jual ini diperkirakan akan berlanjut dan bahkan berpotensi terus berlanjut ke pekan depan,” ujar Andy, Jumat,1 Agustus 2025.
Menurutnya, menguatnya sentimen risk-on dan rebound dolar AS menyebabkan minat investor terhadap emas menurun. Secara teknikal, harga emas masih berada dalam tren turun yang kuat, dengan indikator moving average dan pola candlestick harian yang menunjukkan dominasi tekanan jual.
Andy menambahkan, fokus pasar saat ini tertuju pada data NFP AS yang kerap memicu volatilitas tinggi di pasar logam mulia. Jika angka ketenagakerjaan di bawah ekspektasi, maka dolar AS bisa tertekan dan membuka peluang pemulihan harga emas. Sebaliknya, jika data menunjukkan ketahanan ekonomi, tekanan terhadap harga emas berpotensi meningkat.
Sementara itu, laporan World Gold Council per 31 Juli 2025 menunjukkan permintaan investasi emas secara tahunan melonjak 78%, sedangkan total permintaan global tumbuh 3%. Meski demikian, Andy menilai faktor teknikal masih mendominasi pergerakan harga.
“Selama harga belum menembus resistance kunci, tren penurunan masih dominan. Jika tekanan jual berlanjut, harga emas bisa turun ke level US$ 3.247 per troi ons pekan depan,” ujarnya.
Namun, ia juga membuka kemungkinan skenario rebound. Jika harga emas berhasil menembus resistance di level US$ 3.400, maka berpotensi menguat lebih lanjut hingga ke kisaran US$ 3.450 per troi ons.
Editor : R. Muttaqien
























Discussion about this post