BogorOne.co.id | Kabupaten Bogor – Lebih dari 20 ibu-ibu mendatangi kantor Perumda Air Minum Tirta Kahuripan Cabang Leuwiliang, Kabupaten Bogor, Selasa siang, 4 Agustus 2026. Mereka datang membawa panci, wajan, serta sejumlah peralatan dapur sebagai simbol protes atas layanan air bersih yang terhenti berhari-hari.
Rombongan yang mengaku sebagai pelanggan dari Perumahan Grand Sutera Leuwiliang itu langsung menyampaikan keluhan terkait pasokan air dari jaringan instalasi Perumda Tirta Kahuripan yang tidak mengalir ke rumah mereka.
Dengan nada kecewa, para ibu tersebut mempertanyakan pelayanan perusahaan daerah yang dinilai belum mampu memenuhi kebutuhan pelanggan, meski pembayaran rekening air tetap berjalan setiap bulan.
“Kami kecewa, setiap bulan bayar tagihan rekening cukup mahal, tetapi airnya malah sering mati. Bagaimana ini?” ujar salah seorang peserta aksi kepada Bogorone.co.id, Selasa, 4 Agustus 2026.
Menurut warga, gangguan aliran air dari Instalasi Air Minum Tirta Kahuripan Leuwiliang sudah berulang kali terjadi. Sumber gangguan disebut berasal dari sejumlah instalasi, di antaranya di Kampung Geleduh, Desa Barengkok, serta Kampung Pasir Angin, Cemplang, Kecamatan Cibungbulang.
Dampak pemadaman itu, kata warga, tidak hanya mengganggu kebutuhan rumah tangga, tetapi juga aktivitas ekonomi. Salah seorang warga mengaku terpaksa menghentikan usaha warung nasi lantaran tidak memiliki pasokan air untuk memasak.
“Saya sangat dirugikan. Selama berhari-hari warung nasi saya tidak beroperasi karena tidak ada air untuk memasak,” katanya.
Dari informasi yang disampaikan warga, persoalan tersebut diduga berkaitan dengan keterbatasan kapasitas produksi air pada dua instalasi milik Perumda Tirta Kahuripan Leuwiliang. Kapasitas produksi dinilai belum mampu memenuhi kebutuhan sekitar 18 ribu pelanggan di empat wilayah, yakni Leuwiliang, Leuwisadeng, Ciampea, dan Cibungbulang.
Warga juga menyoroti kondisi mesin instalasi yang disebut sudah berusia tua dan membutuhkan penggantian. Mereka meminta persoalan tersebut tidak hanya menjadi tanggung jawab Perumda Tirta Kahuripan, tetapi juga mendapat perhatian dari Pemerintah Kabupaten Bogor.
“Mesinnya sudah tua dan harus diganti baru. Jadi bukan hanya Perumda Tirta Kahuripan yang bertanggung jawab, tetapi Bupati Bogor juga harus ikut membantu menyelesaikan persoalan ini agar tidak berlarut-larut,” ujar warga.
Aksi tersebut sempat berlangsung dengan suasana memanas. Rombongan ibu-ibu yang dipimpin seorang penggiat media sosial itu beberapa kali menyampaikan protes dengan suara tinggi.
Situasi kemudian mereda setelah Kepala Cabang Perumda Tirta Kahuripan Leuwiliang Dani Praysetya memberikan penjelasan kepada para warga. Ia berjanji akan segera menindaklanjuti keluhan terkait gangguan pasokan air tersebut.
Reporter : Jef Sukapura
Editor : R. Muttaqien


























Discussion about this post