BogorOne.co.id | Kota Bogor – Komunitas Persaudaraan Korban Napza (PKN) Bogor bekerjasama dengan RSUD Kota Bogor dan dukungan PKNI Nasional dan NAPUD menggelar Pendidikan dan Informasi seputar layanan Hepatitis C di aula RSUD Kota Bogor, Minggu (05/12/21).
Koordinator PKN Bogor, Bonny Sofianto didampingi Pramudya Adhi selaku Humas PKN mengatakan, kegiatan ini dilaksanakan melihat kebutuhan rekan-rekan yang berlatarbelakang korban Napza dalam mengakses layanan kesehatan yakni Hepatitis C.
Menurutnya, permasalahan Hepatitis C di Indonesia saat ini cukup menjadi perhatian banyak kalangan. Prevalensi penduduk Indonesia yang terinfeksi Hepatitis C di Indonesia menurut penelitian Kementerian Kesehatan terakhir adalah sekitar 1,1 persen dari total penduduk Indonesia.
Apabila saat ini penduduk Indonesia diperkirakan sekitar 270 juta orang, maka sekitar 3 juta orang yang terinfeksi penyakit ini. Hepatitis C merupakan penyakit infeksi dan peradangan pada organ hati (hepar) akibat virus hepatitis C.
“Hepatitis C umumnya tidak menunjukkan gejala pada tahap awal. Karena itu, sebagian besar penderita hepatitis C tidak menyadari bahwa dirinya sudah tertular sampai akhirnya menderita kerusakan hati bertahun-tahun kemudian,” ucapnya.
Sementara itu, dr. Yeti Hariyati dari RSUD Kota Bogor menjelaskan, sekitar 15 persen penderitanya berhasil sembuh dari penyakit ini tanpa penanganan khusus. Sedangkan, 85 persen sisanya akan menyimpan virus untuk waktu lama yang kemudian berkembang menjadi infeksi hepatitis C kronis.
“Penderita hepatitis C kronis memiliki risiko sekitar 20 persen untuk terkena sirosis hati dalam waktu 20 tahun. Sirosis Komplikasi ini dapat berakibat fatal bahkan dapat menyebabkan kematian sehingga para praktisi dan akademisi menyebut hepatitis C sebagai virus atau penyakit “Silent Killer ‘,” ungkapnya.
Beberapa tahun lalu, lanjutnya, vagi mereka yang memiliki uang berlebih, terdapat obat antivirus yang umum digunakan untuk menghentikan perkembangan virus dan mencegah kerusakan hati yakni Interferon dan Ribavirin. Namun, karena harga yang cukup tinggi dan tidak semua orang dengan hepatitis dapat mengaksesnya, seiring berjalannya waktu, para pakar berhasil menemukan jenis obat baru yang lebih efektif sekaligus lebih aman dan bisa ditoleransi oleh tubuh.
“Nama obat terbaru itu adalah direct antiviral agent (DAA), yang saat ini tersedia di RSUD Kota Bogor dan dapat di akses secara gratis dengan mengikuti alur dan prosedur yang telah ditentukan,” pungkasnya. (Fik)
























Discussion about this post