BogorOne.co.id | Baubau – Kemegahan Benteng Keraton Buton terpancar gagah dari puncak bukit di kawasan Limbo Wolio, Kota Baubau, Sulawesi Tenggara. Lebih dari sekadar situs bersejarah, benteng ini adalah simbol kebesaran dan kejayaan Kesultanan Buton yang menancapkan pijakannya kokoh di tanah Sulawesi.
Berdiri di atas lereng terjal, benteng ini tidak hanya memamerkan keindahan arsitektur masa lampau, tetapi juga suguhan pemandangan alam yang memukau.
Dari sana, jejak panjang sejarah perjalanan Kerajaan Buton terasa hidup, seolah mengajak pengunjung menyelami masa ketika para pendiri kerajaan ini berjuang membuka hutan belukar untuk menetap dan membangun peradaban mereka.
Awalnya, benteng ini hanyalah tumpukan batu yang mengelilingi kompleks istana, berfungsi sebagai pembatas antara kawasan kerajaan dan perkampungan rakyat sekaligus benteng pertahanan dari serangan musuh.
Namun, pada masa pemerintahan Sultan Buton IV, La Elangi atau yang dikenal juga dengan nama Sultan Dayanu Ikhsanuddin, benteng ini berubah menjadi struktur permanen yang kokoh, sebuah karya teknik pertahanan zaman dulu yang masih berdiri kokoh hingga kini.
Benteng Keraton Buton memiliki 12 pintu gerbang, yang disebut Lawa, dan 16 emplasemen meriam yang dinamakan Baluara. Batu-batu alami yang menyusun benteng ini menyimpan cerita tentang kecanggihan strategi dan pertahanan yang diterapkan saat itu.
Berada di titik tertinggi bukit, benteng ini menjadi tempat yang sangat strategis, menyuguhkan pemandangan Kota Baubau yang terbentang luas di bawahnya serta kapal-kapal yang hilir mudik di Selat Buton, sebuah panorama yang tak pernah gagal memikat mata pengunjung.
Lebih dari keindahan luar, benteng ini menyimpan ruang bawah tanah yang dahulu dipakai sebagai gudang senjata dan perlengkapan perang. Ruang gelap itu seakan menjadi saksi bisu kehidupan pertahanan yang berlangsung di masa kejayaan Kesultanan Buton.
Setiap sudut benteng pun menyimpan cerita dari pintu-pintu Lawa yang punya fungsi dan makna berbeda, hingga emplasemen meriam Baluara yang bertugas menjaga benteng dari serangan musuh.
Para pecinta sejarah dan arkeologi pasti terpukau oleh berbagai artefak dan benda berharga peninggalan kerajaan yang dipamerkan di sini.
Benteng ini bukan sekadar destinasi wisata, melainkan jendela yang membuka kembali lembaran masa lalu yang penuh kebanggaan.
Pengalaman menjelajah Benteng Keraton Buton juga tak kalah menarik. Trekking menuju puncak bukit adalah tantangan yang harus dilalui, namun semua terbayar lunas dengan panorama menakjubkan yang menanti di atas sana.
Keliling benteng, menjelajahi lorong-lorong bersejarah, atau berburu foto di spot-spot Instagramable dengan latar benteng kokoh dan alam asri, adalah aktivitas yang tak boleh dilewatkan.
Untuk menjangkau benteng yang penuh sejarah ini, pengunjung bisa memulai perjalanan dari Jakarta menuju Bandara Sultan Hasanuddin di Makassar selama sekitar 2 hingga 2,5 jam.
Dari Makassar, dilanjutkan dengan penerbangan domestik ke Bandara Betoambari di Kota Baubau selama kurang lebih 1,5 jam.
Setelah itu, perjalanan darat sejauh 7-10 kilometer akan membawa pengunjung sampai ke kawasan Benteng Keraton Buton, siap untuk menyambut petualangan sejarah yang tak terlupakan..























Discussion about this post