BogorOne.co.id | Jakarta – Obsessive compulsive disorder atau yang biasa dikenal dengan sebutan OCD adalah masalah mental yang membuat pengidapnya melakukan suatu tindakan tertentu secara berulang-ulang. Hal tersebut tidak dapat dikontrol secara langsung oleh penderita OCD.
Dikutip dari Psychiatry, OCD adalah gangguan yang terjadi saat seseorang memiliki pikiran atau ide yang tidak bisa dikontrol (obsesi) yang kemudian mendorongnya untuk melakukan kegiatan secara berulang-ulang (kompulsi) dan perilaku berulang ini bisa mengganggu aktivitas sehari-hari dan juga interaksi seseorang secara sosial
Seorang psikolog klinis dan Co-Founder Ohana Space, Veronica Adesla, menjelaskan seseorang dengan OCD mengalami obsesi atau kompuls yang muncul terus-menerus. Obsesi tersebut muncul selama lebih dari satu jam dalam sehari dan juga berisiko mengganggu aktivitas keseharian.
OCD adalah kondisi yang harus didiagnosis oleh profesional, tidak bisa disimpulkan sendiri oleh awam. Jika seseorang mengalami tanda-tanda serupa OCD, bisa dilakukan pemeriksaan lebih lanjut oleh psikolog klinis agar tingkat keparahan OCD bisa terdeteksi, penanganannya pun tepat.
Lebih lanjut Veronica menjelaskan, ada beberapa faktor penyebab OCD. Di antaranya yakni berupa faktor genetik atau kondisi tertentu di otak.
“Ada yang genetik, kemudian bawaan biologis neurotransmitter di otak kita yang menyebabkan terjadinya OCD. Ada juga penyebab dari akibat psikoanalisa. Jadi hasil dari perasaan tidak mampu akhirnya masuknya ke OCD, ada juga fiksasi atau penyimpangan dari adanya insting. Kita kan manusia punya insting tapi instingnya nggak bisa dikontrol, itu juga bisa menyebabkan OCD,” terangnya dilansir detikhealth dalam program e-Life beberapa waktu lalu.
Faktor kedua, yakni akibat perilaku. Dalam hal ini, manusia selalu belajar. Ketika seseorang memahami bahwa dengan melakukan sesuatu secara berulang akan timbul perasaan tenang, maka akan timbul sikap kompulsif.
“Akhirnya kita belajar bahwa melakukan berulang kali membuat tenang, kita lakukan lagi, akhirnya jadilah kompulsif tadi. Kita belajar bahwa itu menenangkan. Walaupun sifat menenangkannya sementara sih kalau di gangguan OCD. Lebih banyak kerugiannya,” jelas Veronica.
Penyebab OCD bisa berupa faktor kognitif dan dinamikanya bersifat kompleks. Dengan arti bahwa seseorang itu melihat ancaman secara berlebihan, misalnya terkait kondisi kesehatan.(Ir-v)
























Discussion about this post