BogorOne.co.id | Kota Bogor – Penyakit katastropik masih menjadi tantangan besar bagi sektor kesehatan di Kota Bogor. Dinas Kesehatan Kota Bogor mencatat kasus penyakit jantung, stroke, kanker, dan gagal ginjal kronis terus menunjukkan tren peningkatan dalam beberapa tahun terakhir.
Kepala Dinas Kesehatan Kota Bogor Erna Nuraena mengatakan penyakit katastropik tidak hanya berdampak pada kondisi kesehatan penderitanya, tetapi juga memengaruhi kualitas hidup keluarga dan meningkatkan beban pembiayaan layanan kesehatan.
“Data tersebut menunjukkan penyakit katastropik masih menjadi tantangan besar yang harus ditangani secara serius melalui pengendalian faktor risiko dan deteksi dini sejak di tingkat masyarakat,” kata Erna.
Berdasarkan data Dinas Kesehatan Kota Bogor tahun 2024, terdapat 7.103 kasus penyakit jantung dengan 309 kematian. Sementara kasus stroke mencapai 4.084 kasus dengan 221 kematian.
Peningkatan juga terjadi pada kasus penyakit ginjal kronis. Pada 2022 tercatat 1.408 kasus, kemudian meningkat menjadi 1.895 kasus pada 2023 dan kembali naik menjadi 2.014 kasus pada 2024.
Tren serupa terlihat pada kasus kanker. Jumlah penderita kanker di Kota Bogor meningkat dari 821 kasus pada 2021 menjadi 994 kasus pada 2022. Angka itu kembali naik menjadi 1.220 kasus pada 2023, kemudian melonjak menjadi 1.711 kasus pada 2024 dan mencapai 1.951 kasus pada 2025 dengan 103 kematian.
Jenis kanker yang paling banyak ditemukan antara lain kanker payudara, kanker leher rahim, kanker kolorektal, kanker prostat, kanker paru, serta leukemia.
Menurut Erna, peningkatan penyakit katastropik berkaitan erat dengan faktor risiko yang sebenarnya dapat dicegah. Hipertensi, diabetes melitus, kebiasaan merokok, pola makan tinggi gula, garam, dan lemak, obesitas, serta kurang aktivitas fisik menjadi pemicu utama berbagai penyakit tersebut.
“Dalam banyak kasus, penyakit baru diketahui ketika sudah berada pada stadium lanjut atau telah menimbulkan komplikasi. Kondisi itu membuat penanganan menjadi lebih kompleks dan biaya pengobatan semakin besar,” ujarnya.
Secara nasional, BPJS Kesehatan mencatat sekitar 59,94 juta layanan penyakit katastropik sepanjang 2025 dengan total pembiayaan mencapai Rp50,28 triliun. Penyakit jantung, gagal ginjal, kanker, dan stroke menjadi kelompok penyakit dengan biaya penanganan terbesar.
Untuk menekan angka kasus, Dinas Kesehatan Kota Bogor memperkuat upaya promotif dan preventif melalui edukasi kesehatan, skrining faktor risiko penyakit tidak menular, deteksi dini di fasilitas kesehatan, penguatan kapasitas tenaga kesehatan, hingga perluasan program Cek Kesehatan Gratis.
Khusus pencegahan kanker, masyarakat didorong memanfaatkan layanan skrining, pemeriksaan IVA, pemeriksaan payudara klinis, serta vaksinasi HPV bagi anak perempuan usia sekolah. Adapun pencegahan penyakit jantung, stroke, dan ginjal kronis difokuskan pada pengendalian tekanan darah dan gula darah, pemeriksaan fungsi ginjal secara berkala, penghentian kebiasaan merokok, peningkatan aktivitas fisik, serta penerapan pola makan sehat.
Erna mengingatkan penyakit katastropik berkembang secara perlahan melalui faktor risiko yang tidak terkendali. Karena itu, pemeriksaan kesehatan berkala dan penerapan perilaku CERDIK dinilai penting untuk menemukan penyakit lebih dini.
“Masyarakat perlu memahami bahwa penyakit katastropik tidak muncul secara tiba-tiba. Dengan keterlibatan aktif masyarakat, kami berharap beban penyakit katastropik di Kota Bogor dapat ditekan sehingga kualitas hidup masyarakat semakin baik dan pelayanan kesehatan menjadi lebih efektif,” kata Erna.
Reporter : Resha Bunai
Editor : R. Muttaqien


























Discussion about this post