BogorOne.co.id | Cimahi – Pagi masih menyisakan kabut tipis saat sinar matahari menyusup di sela pepohonan di Kampung Adat Cireundeu, Leuwigajah, Cimahi. Di balik keheningan itu, lekukan tangan-tangan terampil mulai bekerja, mencuci, mengupas, dan menggiling singkong yang sebentar lagi akan berubah rupa menjadi butiran rasi “beras” singkong yang telah menjadi napas dan denyut kehidupan warga selama lebih dari satu abad.
“Kami tak pernah kenal nasi padi sejak dulu,” kata Abah Widi, sesepuh kampung yang duduk bersila di serambi rumah tradisionalnya. Wajahnya teduh, suaranya pelan namun tegas mengiringi deru mesin penggiling yang tak pernah berhenti setiap pagi.
Sejak 1918, Abah Widi sudah menggagas rasi sebagai solusi di tengah kesulitan menanam padi karena medan perbukitan dan penjajahan.
Dulu, kata Abah Widi, sawah hampir mustahil digarap. Lahan terjal memaksa komunitas Cireundeu beralih ke umbi-umbian. Dari situ lahirlah kebiasaan mengolah singkong kering menjadi beras singkong, praktis, tahan lama, dan kaya serat.
“Rasi bukan sekadar pengganti nasi. Ia melambangkan kemandirian kami,” ujarnya sambil menepuk pelan tumpukan rasi putih kasar yang menunggu pengemasan.
Di kampong lain, Entis Sutisna (48), generasi keempat yang mewarisi tradisi tersebut, menata keranjang besar berisi singkong hasil panennya. Dalam sehari, ia mampu mengolah 200 kilogram singkong menjadi 30 kilogram rasi siap pakai.
“Panen saya bergilir dari enam kebun, karena umur singkong berbeda-beda—ada yang dua bulan, ada juga yang enam bulan,” jelasnya sambil tersenyum saat memperlihatkan butiran rasi berserakan di atas tampah bambu.
Prosesnya sederhana, singkong dikupas, digiling, diperas, lalu dijemur selama dua hingga tiga hari hingga kering sempurna. Hasilnya mirip butiran gandum, berwarna putih tulang, dan mudah disimpan. Menurut Entis,
“Rasi ini tahan sampai berbulan-bulan, bahkan saat harga beras padi meroket atau isu oplosan merebak, kami tetap tenang,” tutrnya.
Hasil panen rasi tidak hanya memenuhi kebutuhan keluarga Entis. Bila kelebihan, ia menjualnya ke masyarakat luar Cimahi seharga Rp 12.000 per kilogram.
“Banyak yang ‘fobia’ nasi sekarang, mereka cari alternatif yang sehat,” katanya.
Lebih dari nilai ekonomis, rasi menyimpan simbol kebanggaan. Anak-anak Cireundeu dengan tas isi bekal rasi tumbuh memaknai kehidupan yang mengakar pada tradisi.
“Sejak kecil saya sudah terbiasa. Sampai sekarang, kami tidak merasa terbelakang,” ujarnya.
Di sebuah meja kayu usang, setoples rasi berdiri rapi, siap dibawa pulang. Bau singkong kering yang khas tercium ringan, mengingatkan bahwa di balik setiap butir rasi ada sejarah perjuangan dan inovasi.
Editor : R. Muttaqien
























Discussion about this post