BogorOne.co.id | Teheran – Ketegangan di Timur Tengah kembali meningkat setelah Amerika Serikat melancarkan serangan militer ke sejumlah fasilitas Iran menyusul serangan terhadap tiga kapal komersial di Selat Hormuz. Operasi militer itu sekaligus menandai berakhirnya nota kesepahaman (MoU) antara Washington dan Teheran yang sebelumnya disepakati untuk mempertahankan gencatan senjata dan menjamin keamanan pelayaran di kawasan tersebut.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan kesepakatan itu tidak lagi berlaku. Ia menilai serangan terhadap kapal-kapal dagang membuktikan Iran tidak memiliki komitmen terhadap perdamaian. Trump bahkan mengisyaratkan operasi militer lanjutan jika Teheran kembali mengancam jalur pelayaran internasional.
Eskalasi bermula ketika tiga kapal komersial diserang saat melintasi Selat Hormuz pada Senin (6/7/2026) hingga Selasa (7/7/2026). Menurut Pusat Operasi Perdagangan Maritim Inggris (UKMTO), sebuah kapal tanker terbakar setelah ruang mesinnya dihantam proyektil, sementara dua kapal lainnya mengalami kerusakan saat berlayar di perairan dekat Oman dan Uni Emirat Arab.
Televisi Pemerintah Iran menyebut salah satu kapal tanker gas alam cair diserang setelah mengabaikan peringatan dari otoritas Iran. Namun, Teheran tidak secara terbuka mengakui bertanggung jawab atas insiden tersebut.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmail Baghaei mengatakan kapal-kapal yang berlayar tanpa berkoordinasi dengan otoritas Iran atau mematikan sistem pelacakan berisiko mengalami insiden karena mengganggu upaya pengamanan pelayaran.
Serangan terhadap kapal-kapal dagang itu langsung memicu respons militer Washington. Komando Pusat Amerika Serikat (Centcom) menyatakan operasi dilakukan sebagai balasan atas serangan terhadap kapal komersial yang diawaki warga sipil di jalur pelayaran internasional.
Pada Rabu (8/7/2026), militer Amerika menggempur sejumlah wilayah Iran. Sasaran operasi meliputi sistem pertahanan udara, radar pantai, jaringan pengawasan, rudal darat-ke-udara, lokasi peluncuran rudal jelajah antikapal, pangkalan drone, hingga fasilitas pelabuhan.
Seorang pejabat Amerika mengatakan cakupan operasi kali ini delapan kali lebih besar dibandingkan serangan balasan pada akhir Juni. Washington menilai Iran tidak menunjukkan perubahan sikap meski kedua negara sempat menyepakati penghentian konflik.
Dalam perkembangan berikutnya, Centcom mengklaim telah menghancurkan lebih dari 80 target militer Iran. Target tersebut mencakup sistem pertahanan udara, pusat komando dan kendali, radar pantai, kemampuan rudal antikapal, serta lebih dari 60 kapal cepat milik Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) di sekitar Selat Hormuz.
Centcom menyatakan operasi itu bertujuan mengurangi kemampuan Iran mengancam kebebasan navigasi dan perdagangan internasional. Militer Amerika juga menegaskan siap melanjutkan serangan apabila Iran kembali melakukan aksi yang dinilai melanggar gencatan senjata.
Tak lama setelah operasi dimulai, media pemerintah Iran melaporkan ledakan terjadi di Pulau Qeshm, Bandar Abbas, Sirik, dan sejumlah wilayah di Iran selatan. Hingga kini, pemerintah Iran belum mengumumkan jumlah korban maupun kerusakan secara rinci.
Pemerintah Iran menuding Amerika Serikat melanggar nota kesepahaman yang baru disepakati kedua negara. Wakil Menteri Luar Negeri Iran Kazem Gharibabadi menyebut serangan tersebut bertentangan dengan komitmen mempertahankan gencatan senjata.
Teheran juga mengecam keputusan Washington mencabut lisensi sementara yang sebelumnya mengizinkan Iran menjual minyak sebagai bagian dari kesepakatan damai. Menurut Iran, langkah itu menunjukkan Amerika tidak memiliki iktikad baik dan telah mengingkari komitmen yang dibuat bersama.
Sebaliknya, seorang pejabat Amerika mengatakan pencabutan lisensi dilakukan karena serangan terhadap kapal-kapal komersial dianggap sebagai pelanggaran serius yang harus mendapat konsekuensi.
Serangan di Selat Hormuz juga memicu reaksi negara-negara Teluk. Qatar menyatakan kapal tanker berbendera negaranya menjadi sasaran serangan dan memanggil wakil duta besar Iran untuk menyampaikan protes resmi. Arab Saudi juga melaporkan salah satu kapal tankernya diserang saat melintasi kawasan tersebut.
Iran membantah tuduhan itu. Esmail Baghaei menyebut tudingan Qatar bertentangan dengan prinsip hubungan bertetangga yang baik.
Di tengah meningkatnya konflik, Trump menegaskan kesepakatan damai dengan Iran telah berakhir. Dalam pernyataannya di sela KTT NATO di Ankara, Turki, ia mengatakan tidak lagi percaya terhadap komitmen Teheran.
“Kami menyerang mereka dengan sangat keras tadi malam. Kami mungkin akan menyerang mereka dengan keras lagi malam ini,” kata Trump.
Meski mengaku Iran sempat menghubungi Washington untuk membuka kembali perundingan, Trump menyatakan skeptis terhadap setiap upaya diplomasi dengan Teheran.
Di sisi lain, Iran masih menggelar rangkaian pemakaman mantan Pemimpin Tertinggi Ayatullah Ali Khamenei yang tewas pada awal perang. Ratusan ribu warga menghadiri prosesi penghormatan di Kota Qom sebelum jenazah dibawa ke Irak dan kembali dimakamkan di Kota Masyhad.
Selat Hormuz sendiri merupakan salah satu jalur pelayaran energi paling vital di dunia. Sekitar seperlima pasokan minyak dan gas global melintasi kawasan tersebut. Karena itu, meningkatnya konfrontasi militer antara Amerika Serikat dan Iran kembali memunculkan kekhawatiran terhadap keamanan pelayaran internasional, stabilitas pasokan energi, dan prospek diplomasi di kawasan Timur Tengah.
Editor : R. Muttaqien


























Discussion about this post