BogorOne.co.id | Kota Bogor – Pemerintah Kota Bogor melanjutkan penutupan lintasan sebidang ilegal di kawasan rel kereta api. Setelah menyelesaikan pemagaran di Jalan Solis, giliran akses penyeberangan di bawah Flyover RE Martadinata yang akan ditutup pada Agustus 2026 sebagai upaya menekan angka kecelakaan.
Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kota Bogor, Juniarti Ertiningsih, mengatakan pekerjaan di RE Martadinata baru dimulai setelah proyek pemagaran di Jalan Solis selesai pada akhir Juli.
“Setelah Solis selesai, lanjut Martadinata. Solis selesai akhir Juli, jadi insyaallah Martadinata sekitar Agustus,” kata Juniarti, Selasa, 28 Juli 2026.
Menurut dia, konsep penutupan di RE Martadinata akan menggunakan metode yang sama seperti di Jalan Solis. Pemerintah Kota Bogor memasang pagar BRC di dua sisi lintasan agar akses penyeberangan warga dapat ditutup secara permanen.
“Masih sama, pakai pagar BRC seperti di Solis. Yang ditutup di dua area, arah dekat kantor Polsek dan sisi seberangnya,” ujar Juniarti.
Juniarti mengatakan tim Dinas PUPR telah meninjau lokasi dan menemukan aktivitas penyeberangan warga masih berlangsung tanpa pengamanan. Kondisi tersebut dinilai berisiko karena masyarakat bebas melintas di jalur rel aktif.
Saat ini pemerintah masih menghitung kebutuhan panjang dan luas pagar yang akan dipasang. Bersamaan dengan itu, sosialisasi kepada warga di sekitar lintasan juga mulai disiapkan.
Menurut Juniarti, sosialisasi akan melibatkan pemerintah wilayah karena area penutupan berada di dua kelurahan, yakni Kelurahan Cibogor dan Kelurahan Kebon Pedes.
“Nanti kami sambil sosialisasikan, disampaikan ke lurah karena meliputi dua kelurahan, yaitu Cibogor dan Kebon Pedes,” katanya.
Ia berharap masyarakat memahami kebijakan tersebut karena bertujuan meningkatkan keselamatan pengguna jalan dan mengurangi risiko kecelakaan di lintasan kereta.
Juniarti menyebut lintasan di bawah Flyover RE Martadinata termasuk salah satu titik yang kerap memakan korban jiwa. Meski tidak dilalui kendaraan bermotor, warga masih sering menyeberang rel sehingga beberapa kali terjadi insiden tertabrak kereta.
“Meski tidak ada kendaraan yang lewat, masyarakat masih sering berlalu-lalang. Karena itu sering juga terjadi orang menyeberang lalu tertabrak kereta,” ujar Juniarti.
Reporter : Resha Bunai
Editor : R. Muttaqien


























Discussion about this post