BogorOne.co.id | Jakarta – Menjalankan ibadah puasa saat Ramadhan adalah salah satu kewajiban bagi umat Muslim yang memenuhi syarat dan juga mampu menjalankannya.
Waktu berpuasa adalah dari terbitnya fajar sampai waktu maghrib tapi ada sejumlah negara yang memiliki durasi berpuasa lebih lama karena mengalami waktu siang lebih panjang, terutama ketika memasuki musim panas.
Sejumlah negara yang terletak di sekitar sisi utara Lingkaran Arktik, seperti Norwegia, Swedia, Islandia dan Finlandia, mengalami sinar matahari hingga 23 jam sehari saat puncak musim panas.
Mulai pertengahan April hingga Juli karena itu, ada istilah ‘midnight sun’ di wilayah itu karena penduduk benar-benar masih bisa melihat matahari meski sudah menunjukkan waktu tengah malam.
Pada Ramadan 2018 lalu, umat Muslim di Islandia harus berpuasa selama 21 jam 51 menit karena Ramadhan pada tahun itu jatuh pada puncak musim panas.
Beruntung, pada 2023 ini, Ramadhan jatuh pada awal musim panas, sehingga durasi berpuasa menjadi lebih pendek, yakni hingga 17 jam sehari.
Meski demikian, tentu saja durasi itu tetap lebih panjang dibanding umat Muslim di Indonesia yang hanya berpuasa selama 13 jam sehari.
Dengan demikian, nyaris tidak ada waktu maghrib di beberapa negara karena matahari tidak terbenam sepenuhnya di ufuk barat, seperti melansir cnbcindonesia.
Lalu, bagaimana jika bulan Ramadhan jatuh pada puncak musim panas dan bagaimana umat Muslim di negara tersebut berpuasa?
Para akhirnya ulama sepakat bahwa terdapat kelonggaran syariat bagi umat Muslim yang tinggal di negara dengan fenomena alam yang ekstrem.
Muslim yang tinggal di negara-negara dengan matahari tidak terbenam atau hanya turun sesaat dapat mengikuti salah satu dari tiga solusi yang ditawarkan oleh beberapa ulama.
Pilihan dari ketiga solusi tersebut adalah berbuka puasa mengikuti waktu matahari terbenam di negara terdekat yang tidak mendapat matahari secara terus-terusan.
Boleh juga mengikuti waktu berbuka di negara mayoritas Muslim terdekat atau juga mengikuti waktu Makkah alias Arab Saudi dan diperbolehkan juga berpuasa mengikuti waktu setempat di mana mereka tinggal bila sanggup.
Direktur eksekutif Yayasan Islam Islandia, Karim Askari, mengatakan bahwa dua masjid di ibu kota Islandia sepakat untuk mengikuti waktu fajar dan senja setempat untuk memutuskan kapan mereka harus berbuka puasa.
Namun, ada juga masjid dan organisasi lain yang memilih untuk mengikuti waktu berbuka negara-negara Eropa lainnya atau mengikuti negara terdekatnya.
“Mereka bisa memilih apa yang mereka inginkan. Kami memiliki kebebasan dalam hubungan masyarakat kami di sini,” kata Askari. (Ir-v)
























Discussion about this post