Penulis : Beby Cahyaning Ratri Mahasiswi Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jakarta
BogorOne.co.id | Jakarta – Karakter bangsa merupakan kata yang selalu muncul dan seringkali menjadi penutup diskusi perihal penyebab keterpurukan bangsa Indonesia di berbagai bidang. Bukan hal baru untuk menyatakan bahwa karakter bangsa Indonesia sedang berada di titik nadir.
Mahasiswi universitas pembangunan Nasional veteran Jakarta Beby Cahyaning Ratri mengatakan, dirinya
sangat meyakini bahwa perbaikan karakter bangsa merupakan satu kunci terpenting agar bangsa yang besar jumlah penduduknya ini bisa keluar dari permasalahan terpuruknya karakter bangsa.
Menurut dia, bahwa pembangunan bidang fisik sangatlah berbeda dengan pembangunan mental atau karakter bangsa. Sendi-sendi sebuah bangsa umumnya adalah berupa karakter dan mentalitas rakyatnya yang menjadi pondasi kukuh dari tata nilai bangsa tersebut.
Keruntuhan sebuah bangsa umumnya ditandai dengan semakin lunturnya nilai-nilai bangsa walaupun secara de facto bangsa tersebut masih eksis.
Dijelaskannya, penurunan karakter bangsa Indonesia dapat terlihat pada kondisi permasalahan sosial yang terjadi. Mulai dari masalah gontok-gontokan, kurangnya kerja sama, egosentris golongan atau partai sampai kepada bangsa yang sarat dengan korupsi, kolusi dan nepotisme.
“Persoalan ini muncul karena lunturnya nilai-nilai karakter bangsa yang diakui kebenarannya secara universal,” ujar Beby, Senin (05/12/22).
Kualitas dan keberhasilan suatu pendidikan dapat tercermin dari terwujudnya individu yang berkarakter dalam upaya memantapkan budaya dan karakter bangsa. Adanya situasi dan kondisi saat ini, yang telah terjadi degradasi nilai moral dapat menjadi potensi terjadinya perilaku menyimpang pada generasi muda dan atau/ generasi Z bangsanya.
Padahal kata dia, generasi usia produktif menjadi investasi berharga untuk mencapai Indonesia emas 2045. Generasi unggul ini dapat diwujudkan melalui proses pembelajaran.
Amanat Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional yang dipertegas kembali oleh Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 87 Tahun 2017 tentang Penguatan Pendidikan Karakter dan ditanda tangani pada tanggal 6 September 2017.
“Bahwa menurut Presiden Joko Widodo, penguatan pendidikan karakter dalam rangka mewujudkan bangsa yang berbudaya melalui penguatan nilai-nilai religius, jujur, toleran, disiplin, bekerja keras, kreatif, mandiri, demokratis, rasa ingin tahu, semangat kebangsaan, cinta tanah air, menghargai prestasi, komunikatif, cinta damai, gemar membaca, peduli lingkungan, peduli sosial, dan bertanggung jawab oleh karena itu, pemerintah memandang perlu penguatan pendidikan karakter,” sambung Beby.
Untuk membangun karakter bangsa, haruslah diawali dari lingkup yang terkecil. khususnya di sekolah, ada baiknya kita menganalogikan proses pembelajaran di sekolah dengan proses kehidupan bangsa.
Upaya mewujudkan nilai-nilai tersebut dapat dilaksanakan melalui pembelajaran. Tentu saja pembelajaran yang dapat mengadaposi semua nilai-nilai karakter bangsa yang akan dibangun dan pada akhirnya bermuara pada pembentukan suatu masyarakat madani yang lebih demokratis di Indonesia.
Dia berpendapat, konsep masyarakat madani atau civil society adalah perilaku dan perbuatan yang membuat manusia mengaku sebagai manusia modern, memiliki tubuh yang sehat, pikiran yang masuk akal, dan moral yang baik.
“Civil society tidak berasal dari masyarakat urban, tetapi memiliki sifat yang sesuai dengan masyarakat kota, yaitu beradab. Masyarakat madani memiliki karakteristik meliputi perilaku yang santun dengan mampu berinteraksi satu sama lain baik antar individu maupun kelompok,” paparnya.
Sifat yang tertanam dalam masyarakat madani memiliki karakter yang baik. Oleh karena itu, untuk dapat mewujudkan masyarakat madani dibutuhkan kesadaran dalam menumbuhkan karakter bangsa Indonesia.
Upaya dalam membentuk karakter bangsa seseorang melalui jalur pendidikan adalah langkah yang tepat. Dasar pendidikan karakter bangsa seharusnya sudah diterapkan sejak usia dini, karena di usia dini sangat menentukan kemampuan anak dalam mengembangkan potensinya.
Pendidikan karakter bisa dilakukan dengan pelaksanaan Program Penguatan Pendidikan Karakter (PPK). Program pendidikan ini untuk memperkuat karakter generasi Z melalui harmonisasi olah hati, olah rasa, olah pikir, dan olah raga dengan dukungan pelibatan publik dan kerja sama antara sekolah, keluarga, dan masyarakat.
Adapun urgensi Program PPK adalah pembangunan sumber daya manusia yang menjadi pondasi pembangunan bangsa, kedua keterampilan abad ke-21 yang dibutuhkan pada generasi Z yakni kualitas karakter, literasi dasar, dan kompetensi 4C, guna mewujudkan keunggulan bersaing generasi emas 2045 serta kecenderungan kondisi degradasi moralitas, etika, dan budi pekerti.
Namun seiring perkembangan zaman, muncul peluang dan tantangan dalam pembentukan karakter bangsa di Indonesia yang perlu dihadapi bersama. Peluang dan tantangan ini muncul dari perkembangan teknologi informasi dan komunikasi.
Dampak teknologi pada pendidikan karakter sangat positif karena teknologi memberi lebih banyak kekuatan kepada kita, dan memberdayakan orang untuk memecahkan masalah dengan lebih efisien dan menjalani kehidupan yang lebih baik.
Pendidikan karakter bukan hanya tentang belajar menjadi aman atau mengelola risiko, tetapi juga memaksimalkan prospek positif bagi individu dan masyarakat, nilai-nilai kehidupan yang mengangkat orang dan kondisi manusia bahkan dalam keadaan yang paling sulit sekalipun.
Pembelajaran karakter bangsa secara digital mendorong dan mempromosikan pengembangan keterampilan penting abad ke-21 bagi generasi Z seperti keterampilan komunikasi dan kolaborasi serta meningkatkan prestasi dan motivasi.
Tantangan bangsa Indonesia adalah menemukan cara bagaimana menavigasi etika dari era digital yang bergerak cepat, secara sadar, proaktif dan reflektif. Tantangan dalam pendidikan karakter bangsa di era digital mencakup keseimbangan, keselamatan dan keamanan, perundungan siber, sexting, hak cipta dan plagiarisme.
Pendidikan karakter bangsa hendaknya tidak hanya sekadar lompatan layanan tetapi memiliki rencana aksi untuk praktik. Secara bersama-sama, orang tua, guru, dan pengurus sebagai pemangku kepentingan, harus mendorong untuk mewujudkan nilai-nilai baik dalam kehidupan generasi Z.
Dia juga menilai, para pembuat kebijakan pendidikan perlu berperan aktif dalam pengembangan berkelanjutan pembelajaran karakter bangsa secara digital untuk memastikan penerapan pembelajaran digital yang efektif.
Negara-negara dengan strategi pembelajaran digital yang kuat akan bergerak maju untuk membantu generasi Z mencapai potensi penuh di era digital. Dalam rangka mewujudkan masyarakat madani sangat dipengaruhi oleh seberapa kuat pondasi pendidikan karakter bangsa.
“Pendidikan karakter bangsa sangat dipengaruhi oleh individu seseorang dan faktor lingkungan, mulai dari keluarga, sekolah dan masyarakat. Oleh karena itu, pendidikan karakter pada generasi Z merupakan syarat mutlak untuk mewujudkan masyarakat madani di Indonesia,” ungkapnya. (*)
























Discussion about this post