BogorOne.co.id | Jakarta – Penggunaan mobil listrik sebagai kendaraan harian kian meningkat. Namun, di balik efisiensi dan teknologi yang diusung, terdapat sejumlah kondisi yang berpotensi memicu gangguan, salah satunya saat melintasi perlintasan rel kereta api.
Kasus kecelakaan yang melibatkan taksi listrik Green SM di Bekasi pada Senin, 27 April 2026, menjadi sorotan. Kendaraan tersebut dilaporkan mati mendadak saat melintas di rel dan kemudian tertabrak commuter line. Insiden itu diduga memicu kecelakaan lanjutan hingga menimbulkan korban jiwa.
Pakar otomotif Institut Teknologi Bandung, Agus Purwadi, mengatakan mobil listrik umumnya berhenti mendadak akibat kegagalan sistem manajemen energi atau aktivasi sistem proteksi.
“Berbeda dengan mobil berbahan bakar minyak, mobil listrik biasanya mati karena gangguan pada sistem kelistrikan dan proteksi,” kata Agus, Selasa, 5 Mei 2026.
Ia menjelaskan, penyebab paling umum adalah gangguan pada baterai 12 volt yang menyuplai daya ke sistem komputer dan sensor. Jika baterai ini melemah atau mati, aliran listrik dari baterai utama tidak dapat disalurkan ke motor penggerak sehingga kendaraan berhenti total.
Selain itu, gangguan pada sistem manajemen baterai (battery management system/BMS) juga dapat memicu penghentian operasi kendaraan secara otomatis. Sistem ini akan memutus aliran listrik jika terdeteksi panas berlebih pada komponen seperti inverter atau baterai.
Faktor lain adalah aktivasi sistem pengaman tegangan tinggi atau high voltage interlock loop (HVIL). Sistem ini dirancang untuk mematikan kendaraan secara instan jika terdeteksi kebocoran arus atau gangguan pada sambungan kabel tegangan tinggi.
Agus juga menyebut potensi gangguan elektromagnetik di area rel kereta, terutama dari jaringan listrik commuter line. Dalam kondisi tertentu, interferensi tersebut dapat mengganggu komunikasi sistem kendaraan, meskipun kemungkinannya relatif kecil.
Pakar otomotif ITB lainnya, Yannes Martinus Pasaribu, menilai risiko gangguan elektromagnetik terhadap mobil listrik modern sangat rendah.
“Kendaraan listrik saat ini telah melalui uji kompatibilitas elektromagnetik sebelum dipasarkan,” ujarnya.
Ia menambahkan, sistem perlindungan pada mobil listrik dirancang untuk mengantisipasi berbagai potensi gangguan, termasuk dari lingkungan eksternal seperti medan elektromagnetik.
Meski demikian, pengguna tetap disarankan melakukan langkah pencegahan. Di antaranya memastikan kondisi baterai 12 volt tetap prima, menghindari berhenti terlalu lama di atas rel, serta menjaga kecepatan stabil saat melintas untuk meminimalkan guncangan.
Pengendara juga diminta memperhatikan indikator peringatan pada kendaraan dan melakukan servis berkala agar seluruh sistem, termasuk BMS dan HVIL, berfungsi optimal.
Peristiwa di Bekasi menjadi pengingat bahwa meskipun dilengkapi teknologi canggih, mobil listrik tetap memiliki potensi gangguan dalam kondisi tertentu, terutama di area berisiko seperti perlintasan rel kereta api.
Editor : R. Muttaqien
























Discussion about this post