Oleh: Muhamad Ridwan
Mahasiswa Ilmu Komunikasi dan Ilmu Sosial Universitas Djuanda
BogorOne.co.id | Permasalahan sampah di Indonesia masih menjadi persoalan klasik yang belum menemukan jalan keluar secara tuntas. Data menunjukkan bahwa Indonesia masuk dalam lima besar negara penghasil sampah terbanyak di dunia, dengan puluhan juta ton sampah dihasilkan setiap tahunnya. Ironisnya, sebagian besar dari sampah tersebut justru berasal dari rumah tangga yang sebenarnya dapat dikelola dengan lebih bijak melalui prinsip 3R (Reduce, Reuse, Recycle).
Dalam konteks ini, hadirnya Desa Wisata Ciderum di Kabupaten Bogor menjadi sebuah terobosan yang patut diapresiasi. Desa ini tidak hanya menghadirkan konsep wisata berbasis alam, tetapi juga mengusung gagasan eduwisata yang menekankan pentingnya pendidikan lingkungan, khususnya dalam pengelolaan sampah.
Eduwisata di Ciderum menghadirkan pengalaman belajar yang menyenangkan, interaktif, sekaligus membangun kesadaran masyarakat dan pengunjung bahwa sampah tidak hanya identik dengan kotoran, tetapi juga peluang.
Opini penulis, model eduwisata yang diterapkan di Desa Ciderum seharusnya menjadi role model bagi daerah lain di Indonesia. Melalui kegiatan penyuluhan, praktik langsung, hingga pelatihan daur ulang, masyarakat tidak hanya menjadi objek, tetapi juga subjek dalam proses perubahan. Edukasi yang dikombinasikan dengan rekreasi terbukti lebih efektif menanamkan nilai-nilai kesadaran lingkungan karena menghadirkan pengalaman nyata, bukan sekadar teori.
Namun, tentu tidak cukup berhenti pada inisiatif lokal. Pemerintah daerah harus memberikan dukungan lebih, baik dalam hal peraturan maupun fasilitas, agar gerakan ini tidak hanya berjalan sesekali. Selain itu, kolaborasi dengan akademisi, komunitas, dan sektor swasta juga diperlukan untuk menciptakan ekosistem pengelolaan sampah yang berkelanjutan. Tanpa dukungan Bersama-sama, program eduwisata berpotensi tidak mengalami perkembangan dan hanya menjadi agenda kegiatan resmi yang di adakan hanya acara khusus simbolis.
Di tengah gaya hidup masyarakat modern, edukasi lingkungan melalui eduwisata adalah jarum suntik yang menyegarkan. Ia mampu menumbuhkan kesadaran Bersama-sama bahwa perubahan besar selalu dimulai dari langkah kecil, seperti memilah sampah di rumah. Jika model ini diduplikasi secara luas, saya optimis desa-desa wisata lain dapat menjadi motor perubahan menuju Indonesia yang lebih bersih, sehat, dan berdaya.
Pada akhirnya, Desa Wisata Ciderum mengajarkan kita bahwa kesadaran terhadap sampah bukan hanya persoalan teknis, melainkan juga budaya. Mengelola sampah berarti mengelola masa depan lingkungan kita. Maka, mari kita dukung gerakan eduwisata sebagai investasi ekologis jangka panjang demi keberlanjutan bumi yang kita cintai.
Editor : R. Muttaqien
























Discussion about this post