BogorOne.co.id | Kota Bogor – Car Free Day (CFD) di Kota Bogor belum juga kembali digelar. Pemerintah Kota Bogor masih mencari lokasi yang dinilai mampu menampung aktivitas warga tanpa mengganggu peribadatan maupun arus lalu lintas.
Pengamat tata kota Yayat Supriatna menilai Jalan Sudirman sebaiknya tidak lagi menjadi lokasi CFD seperti yang berlangsung selama beberapa tahun sebelumnya. Selain terdapat sejumlah gereja, ruas jalan tersebut dinilai terlalu pendek dan memiliki peran penting dalam jaringan lalu lintas Kota Bogor.
“Jalan Sudirman itu terlalu pendek, untuk CFD tidak sampai satu kilometer. Tapi kalau ditutup, macetnya parah karena banyak yang menggunakan,” kata Yayat kepada Radar Bogor, Rabu, 2 September 2026.
Menurut dia, kondisi jaringan jalan di Kota Bogor juga membuat penutupan Jalan Sudirman berisiko menimbulkan kemacetan di ruas-ruas lain. Berbeda dengan Jakarta yang memiliki jaringan jalan lebih luas dan sejumlah ruas alternatif.
“Di kita belum ada jalan lingkar. Jadi kalau ditutup di tengah kota, dampaknya pasti ke jalan-jalan lain di sekitarnya, bakal macet,” ujarnya.
Yayat kemudian mengusulkan Jalan Jalak Harupat hingga kawasan Taman Kencana sebagai lokasi alternatif CFD. Kawasan tersebut dinilai lebih memungkinkan untuk mendukung aktivitas pejalan kaki sekaligus terintegrasi dengan kawasan Sempur.
“Jalan Jalak Harupat itu ke bawah, nanti orang terintegrasi di Sempur. Jadi sifatnya di Bogor memang untuk berjalan kaki,” kata dia.
Skema lalu lintas, menurut Yayat, dapat diatur dengan melakukan penyekatan dari depan Detasemen Polisi Militer (Denpom). Kendaraan dari arah Jalan Ir H Juanda dapat diarahkan menuju Jalan Sudirman, kemudian melanjutkan perjalanan ke Warung Jambu dan Jalan Pajajaran.
Dengan skema tersebut, area CFD dapat difokuskan di Jalan Jalak Harupat hingga Taman Kencana tanpa menutup seluruh akses lalu lintas di pusat kota.
Namun, penerapan CFD di kawasan itu tetap membutuhkan sejumlah aturan. Salah satunya adalah larangan parkir sepeda motor di area CFD. Warga yang hendak berolahraga atau beraktivitas di kawasan tersebut disarankan menggunakan transportasi umum.
“Kalau mau, parkirnya bisa di Jalan Sudirman. Di sana ada beberapa space yang cukup lumayan,” ujar Yayat.
Ia juga menyarankan CFD berlangsung dalam waktu terbatas, misalnya pukul 06.00 hingga 09.00 WIB. Rentang waktu tersebut dinilai lebih aman karena volume kendaraan belum terlalu padat.
Sementara pedagang, kata Yayat, tidak perlu ditempatkan di jalur utama CFD. Mereka dapat diberikan ruang khusus di sekitar Sempur atau Taman Kencana sehingga kegiatan ekonomi tetap berjalan tanpa mengganggu pergerakan pejalan kaki.
Di sisi lain, Wali Kota Bogor Dedie A. Rachim mengatakan Pemkot Bogor masih menyisir sejumlah lokasi untuk mengembalikan pelaksanaan CFD.
“Ya, saya sedang mencari titiknya supaya semuanya tidak terganggu,” kata Dedie.
Jalan Sudirman sebelumnya menjadi lokasi utama CFD Kota Bogor. Namun, rencana menghidupkan kembali kegiatan tersebut di ruas itu perlu dikaji karena terdapat tiga gereja yang digunakan untuk kegiatan peribadatan pada Minggu.
Dedie mengatakan persoalan akses jemaat menjadi salah satu pertimbangan pemerintah dalam menentukan lokasi CFD. Pemerintah, menurut dia, harus memastikan kebijakan tersebut tidak mengganggu kepentingan kelompok lain.
“Jemaat gereja menyampaikan kalau diselenggarakan di hari Minggu, mereka ibadahnya hari Minggu. Mereka lewat mana, saya juga mikirkan itu,” ujar Dedie.
Menurut dia, ruang publik di Kota Bogor harus dapat digunakan seluruh masyarakat. Karena itu, keputusan mengenai lokasi CFD tidak semata-mata mempertimbangkan keinginan warga, tetapi juga kepentingan pengguna jalan dan masyarakat yang menjalankan aktivitas keagamaan.
“Jangankan umat, tatangkalan, sireum saya tanggung jawab. Semuanya ada di Bogor, jin juga sama, semuanya tanggung jawab saya,” kata Dedie.
Reporter : Resha Bunai
Editor : R. Muttaqien

























Discussion about this post