BogorOne.co.id | Beirut – Serangan udara Israel menghantam wilayah di Lebanon dan memicu kepanikan di kalangan warga sipil, termasuk mahasiswi yang tengah mengikuti kelas daring. Suasana belajar yang semula tenang berubah menjadi mencekam setelah terdengar ledakan keras disertai teriakan.
Rekaman peristiwa tersebut beredar di media sosial pada Sabtu, 11 April 2026, setelah dibagikan jurnalis Malek Al Rougui melalui akun X. Video itu memperlihatkan langsung dampak serangan terhadap aktivitas sipil.
Menurut laporan Lebanon News Agency, serangan udara Israel di wilayah selatan Lebanon pada Kamis, 9 April 2026, menewaskan sedikitnya 17 orang dan melukai sejumlah lainnya.
Serangan di Kota Zrariyeh dilaporkan menewaskan lebih dari 10 orang, termasuk perempuan dan anak-anak, setelah menghantam bangunan tempat tinggal. Sementara itu, di Kota Abbassiyeh, sedikitnya tujuh orang dilaporkan tewas dalam insiden terpisah. Jumlah korban masih bersifat sementara dan berpotensi bertambah.
Selain itu, serangan udara juga dilaporkan terjadi di sejumlah wilayah lain, antara lain Kafra, Jmaijmeh, Safad al-Battikh, Majdal Selm, Deir Antar, serta area sekitar Jembatan Qasmiyeh. Penembakan artileri turut menyasar Kota Haris.
Data Pertahanan Sipil Lebanon mencatat sedikitnya 254 orang tewas dan 1.165 lainnya terluka akibat serangan yang meluas, termasuk di ibu kota Beirut.
Serangan ini terjadi setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran. Namun, eskalasi konflik antara Israel dan Hizbullah terus meningkat.
Kementerian Kesehatan Lebanon mencatat, sejak 2 Maret 2026, total korban tewas akibat serangan Israel mencapai 1.739 orang, dengan 5.873 lainnya mengalami luka-luka.
Gelombang serangan udara pada 8 dan 9 April 2026 disebut sebagai yang terbesar sejak konflik kembali memanas pada awal Maret, memperburuk kondisi keamanan dan kemanusiaan di wilayah tersebut.
Editor : R. Muttaqien
























Discussion about this post