BogorOne.co.id | Jakarta – Iran melancarkan serangan terhadap sejumlah aset strategis dan pangkalan militer Amerika Serikat (AS) di Kuwait serta Bahrain pada Jumat (31/7/2026) waktu setempat. Serangan itu dilakukan setelah militer AS kembali menggempur sejumlah target di wilayah Iran.
Media pemerintah Iran melaporkan, serangan menggunakan drone nirawak menyasar Pangkalan Udara Ahmad al-Jaber di Kuwait. Sejumlah fasilitas yang menjadi target antara lain tempat perlindungan pesawat, sistem komunikasi satelit, serta lokasi penyimpanan perlengkapan militer milik AS.
Serangan serupa juga diarahkan ke Pangkalan Udara Sheikh Isa di Bahrain. Militer Iran menyebut fasilitas generator listrik, sistem navigasi, dan sejumlah bangunan pendukung menjadi sasaran dalam operasi tersebut.
Aksi balasan Iran terjadi beberapa hari setelah militer AS menggelar serangan besar terhadap Iran pada Rabu (29/7/2026). Serangan itu disebut menyasar puluhan fasilitas milik Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) di berbagai wilayah Iran.
Rangkaian serangan tersebut kembali memperbesar ketegangan antara Washington dan Teheran. Eskalasi konflik juga mulai berdampak pada kawasan sekitar Timur Tengah, terutama setelah serangan drone terhadap infrastruktur energi dan jalur pelayaran meningkat.
Pemerintah Mesir pada Kamis (30/7/2026) melaporkan sebuah drone menghantam dua kapal di Pelabuhan Damietta, Laut Mediterania. Serangan itu memicu kebakaran, meski hingga kini belum ada pihak yang mengklaim bertanggung jawab.
Insiden tersebut menjadi serangan pertama di wilayah Mesir sejak konflik bersenjata antara AS dan Iran pecah pada akhir Februari.
Analis Timur Tengah dan Afrika Utara dari Verisk Maplecroft, Hamish Kinnear, menilai serangan drone di Mesir menunjukkan konflik mulai menjangkau wilayah strategis yang sebelumnya relatif aman, termasuk kawasan sekitar Terusan Suez.
“Meluasnya jangkauan geografis serangan drone dan rudal terhadap pelayaran tahun ini yang meliputi Laut Kaspia, Laut Hitam, Laut Mediterania, Laut Merah, Teluk Persia, dan Samudra Hindia menandai era baru risiko maritim,” kata Kinnear, dikutip CNBC.
Menurut dia, perkembangan teknologi serta perubahan strategi peperangan yang dipengaruhi konflik di Ukraina dan Timur Tengah telah meningkatkan ancaman terhadap jalur pelayaran internasional.
Di tengah meningkatnya ketegangan, harga minyak dunia kembali bergerak naik setelah laporan kantor berita Fars menyebut IRGC menghentikan dua kapal tanker yang melintas di Selat Hormuz. Empat kapal tanker lainnya juga dikabarkan mengubah jalur pelayaran, meski informasi tersebut belum terkonfirmasi secara independen.
Kontrak minyak mentah Brent untuk pengiriman September tercatat naik menjadi sekitar US$ 89,53 per barel. Sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) menguat ke kisaran US$ 84,04 per barel.
Sementara itu, Presiden AS Donald Trump menyatakan keinginannya agar Kongres memasukkan tarif terhadap Iran dalam rancangan undang-undang sanksi terhadap Rusia dan Iran.
Namun, kebijakan tersebut dinilai tidak akan memberikan dampak besar terhadap perdagangan AS-Iran karena nilai impor Amerika dari Iran relatif kecil.
Editor : R. Muttaqien


























Discussion about this post