BogorOne.co.id | Bandung – Jejak aktivitas di sebuah grup WhatsApp mengantarkan polisi pada seorang pria berinisial MSA, 25 tahun, di Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat. Polisi menduga pria yang sehari-hari bekerja sebagai wirausaha dan perajin kayu itu memanfaatkan ruang digital untuk membangun reputasi sebagai pelaku kejahatan ekstrem.
Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda Jawa Barat menangkap MSA di kediamannya di Kampung Parigilame Nomor 84/23, RT 03/RW 08, Desa Ciwaruga, Kecamatan Parongpong. Dari rumah tersebut, penyidik menyita sejumlah barang bukti yang diduga berkaitan dengan aktivitas perakitan senjata dan bahan peledak.
Kabid Humas Polda Jabar Kombes Pol Hendra Rochmawan mengatakan kasus itu terungkap setelah polisi menerima Laporan Polisi Nomor LP/A/11/IX/2026/SPKT.DITRESKRIMUM/Polda Jabar pada 10 September 2026.
Penyidik kemudian menelusuri aktivitas dalam grup WhatsApp bernama True Crime Community atau TCC. MSA disebut menjadi salah satu anggota yang paling aktif dalam grup tersebut.
“Peran yang bersangkutan pertama adalah sebagai partisan paling aktif di grup WhatsApp True Crime Community. Di sini perannya adalah sebagai motivator kejahatan ekstrem yang mengglorifikasikan kejahatan,” ujar Hendra di Bandung, Kamis, 17 September 2026.
Menurut polisi, aktivitas MSA tidak berhenti pada pembahasan kasus kejahatan. Ia diduga mempelajari cara merakit senjata api dan membuat bahan peledak secara otodidak melalui internet dan YouTube.
Bahan-bahan yang diperlukan, kata polisi, diperoleh dengan cara membeli secara daring melalui platform e-commerce.
Penyidik juga menemukan dugaan bahwa MSA melakukan serangkaian percobaan peledakan di kawasan perbukitan Kabupaten Bandung Barat. Polisi mencatat sedikitnya 16 kali uji coba bahan peledak berdaya ledak tinggi dan 40 kali uji coba bahan peledak berdaya ledak rendah.
“Tidak hanya merakit, tersangka bahkan telah berkali-kali melakukan uji coba peledakan di area perbukitan wilayah Kabupaten Bandung Barat,” kata Hendra.
Aktivitas tersebut, menurut polisi, tidak dilakukan secara sembunyi-sembunyi sepenuhnya. MSA disebut merekam sejumlah percobaan dalam bentuk foto dan video.
Dokumentasi itu kemudian dikirim ke grup TCC. Polisi menduga langkah tersebut digunakan untuk membangun reputasi MSA sebagai anggota yang dianggap memiliki keahlian mengenai bahan peledak.
Kanit 1 Kasubdit 1 Ditreskrimum Polda Jabar AKP David Jou mengatakan grup TCC memiliki 29 anggota yang berasal dari dalam dan luar negeri.
Dalam grup tersebut, para anggota disebut membahas berbagai kasus kejahatan nyata yang pernah terjadi. Polisi juga menemukan sejumlah literatur atau buku yang disebut berkaitan dengan paham ateisme.
“Tersangka MSA sendiri memiliki latar belakang keluarga yang baik dan religius, namun mengalami pergeseran pemikiran hingga mempelajari hal-hal radikal,” ujar David.
Polisi menduga MSA terinspirasi oleh sejumlah kasus kejahatan ekstrem yang pernah terjadi sebelumnya, termasuk ledakan bom panci di Polsek Andir.
Setelah kasus tersebut diungkap dan langkah preventif dilakukan kepolisian, grup WhatsApp TCC terpantau membubarkan diri secara mandiri.
Penyidik kini masih mendalami kemungkinan keterkaitan MSA dengan jaringan teroris tertentu. Polisi juga memeriksa gawai milik MSA untuk mengidentifikasi anggota lain dalam grup tersebut.
Dalam aktivitasnya di TCC, MSA diketahui menggunakan nama akun “Rudolf Vampire”.
Meski menemukan aktivitas perakitan senjata dan uji coba bahan peledak, polisi menyatakan belum menemukan sasaran spesifik yang hendak dituju MSA untuk aksi penembakan ataupun peledakan.
Penyidikan masih berjalan untuk memastikan motif, jaringan, serta kemungkinan adanya pihak lain yang mengetahui atau terlibat dalam aktivitas tersebut.
Editor : R. Muttaqien

























Discussion about this post