BogorOne.co.id | Jakarta – Wakil Ketua Komisi IX DPR RI, Charles Honoris, menilai wacana pemberian program makan bergizi gratis (MBG) kepada penderita tuberkulosis (TBC) tidak realistis untuk diterapkan. Ia menilai kebijakan tersebut berpotensi menimbulkan berbagai kendala teknis dalam penyaluran di lapangan.
“Untuk apa memberikan MBG kepada penderita TBC? Saya rasa ini sesuatu yang sangat tidak realistis,” kata Charles dikutip dari beritasatu.com, Jumat, 26 Juni 2026.
Politikus Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan itu menjelaskan lokasi satuan pelayanan pemenuhan gizi (SPPG) tidak selalu berdekatan dengan tempat tinggal penderita TBC. Menurut dia, kondisi tersebut akan menyulitkan distribusi makanan kepada kelompok sasaran.
Selain persoalan distribusi, Charles juga menyoroti potensi risiko penularan penyakit melalui penggunaan ompreng atau wadah makanan dalam program MBG. Ia mengatakan wadah tersebut turut digunakan penerima manfaat lain, seperti siswa sekolah dasar dan ibu hamil.
Charles berpandangan bantuan pemenuhan gizi bagi penderita TBC sebaiknya disalurkan melalui fasilitas kesehatan yang sudah tersedia, seperti puskesmas. Menurut dia, tenaga kesehatan di puskesmas lebih memahami kebutuhan pasien sehingga bantuan dapat diberikan secara lebih tepat.
“Kita sudah memiliki puskesmas hampir di setiap kelurahan atau kecamatan. Tenaga kesehatan di sana tentu lebih mengetahui kebutuhan pasien TBC sehingga tidak perlu menggunakan program MBG untuk memberikan bantuan makanan kepada mereka,” ujarnya.
Charles menilai usulan yang sebelumnya disampaikan Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin sulit direalisasikan. Ia bahkan menyebut gagasan tersebut tidak masuk akal apabila diterapkan sebagai kebijakan.
“Menurut saya tidak masuk akal dan mudah-mudahan Pak Menkes hanya bercanda ketika menyampaikan wacana ini,” kata Charles.
Sebelumnya, Budi mengusulkan agar penderita TBC memperoleh dukungan asupan gizi yang lebih baik sebagai bagian dari upaya mempercepat penyembuhan. Namun, usulan tersebut memunculkan perdebatan mengenai mekanisme penyaluran dan efektivitas pelaksanaannya di lapangan.
Editor : R. Muttaqien


























Discussion about this post