BogorOne.co.id | Jakarta – Pemerintah Iran menolak tenggat waktu yang ditetapkan Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk membuka Selat Hormuz. Penolakan itu mempertegang situasi di kawasan Timur Tengah yang dalam beberapa hari terakhir diwarnai eskalasi militer.
Mengutip Al Jazeera, Senin, 6 April 2026, Trump sebelumnya memberi batas waktu hingga 7 April 2026 kepada Iran agar kembali membuka jalur pelayaran strategis tersebut. Ia juga mengancam akan menyerang infrastruktur vital Iran, seperti pembangkit listrik dan jembatan, jika tuntutan itu tidak dipenuhi.
Iran merespons ancaman tersebut dengan peringatan serupa. Pemerintah menyatakan akan membalas setiap serangan terhadap fasilitas infrastrukturnya. Seorang pejabat tinggi Iran bahkan menyebut pernyataan Trump sebagai hasutan untuk melakukan kejahatan perang.
Di tengah ketegangan diplomatik, situasi keamanan di lapangan turut memburuk. Sebuah rudal yang dilaporkan berasal dari Iran menghantam kawasan permukiman di Haifa, Israel, pada 5 April 2026. Media setempat melaporkan empat orang terluka dan empat lainnya masih dinyatakan hilang.
Serangan juga meluas ke kawasan Teluk. Sejumlah fasilitas energi dilaporkan menjadi sasaran, mulai dari pembangkit listrik, instalasi desalinasi air, hingga pabrik minyak di Kuwait. Fasilitas minyak di Bahrain turut terdampak.
Memanasnya konflik ini memicu kekhawatiran akan gangguan terhadap distribusi energi global. Selat Hormuz selama ini menjadi salah satu jalur utama pengiriman minyak dunia.
Editor : R. Muttaqien
























Discussion about this post